Proposal Tarif Baru Trump Hantam Saham dan Mata Uang

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 03 Aug 2018 13:58 WIB
bursa sahamPerang dagang
Proposal Tarif Baru Trump Hantam Saham dan Mata Uang
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Mata uang pasar berkembang terancam merosot tajam setelah Federal Reserve menyampaikan penilaian yang optimistis mengenai ekonomi Amerika Serikat (AS). Dolar sepertinya akan tetap terangkat oleh spekulasi kenaikan suku bunga AS tahun ini, sehingga mata uang pasar berkembang termasuk rupiah dapat terus melemah.

"Dari aspek teknis, USD-IDR dapat menantang Rp14.500 per USD di jangka pendek apabila dolar terus menguat," tutur Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed, dalam hasil risetnya, Jumat, 3 Agustus 2018.

Isu perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia terus menghantui pasar pada Kamis waktu setempat setelah Presiden Trump meminta pemerintahannya untuk mempertimbangkan peningkatan proposal tarif sebesar lebih dari dua kali lipat terhadap barang asal Tiongkok senilai USD200 miliar.

"Proposal tarif baru sebesar 25 persen ini memukul saham Asia pada awal perdagangan, sehingga Indeks Hang Seng merosot ke level terendah sejak September 2017," tambah dia.

Indeks CSI 300 China dan Shanghai Composite turun lebih dari 2,5 persen sementara yuan terus bergerak mendekati level terendah satu tahun.

Meninjau ketegangan dagang yang semakin meningkat, investor memantau langkah Pemerintah Tiongkok berikutnya untuk mencegah penurunan besar lebih lanjut di pasar saham.

"Saya rasa pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter adalah instrumen utama untuk saat ini. Walau demikian, menarik untuk kita perhatikan apakah Tiongkok akan mulai menggunakan senjata yang lebih ganas terhadap AS dan menjual sebagian besar dari obligasi treasury sebesar USD1,2 triliun yang saat ini dimiliki Tiongkok," tambahnya.

Menurut dia, ancaman ini akan mengakibatkan imbal hasil treasury melonjak tajam, sehingga biaya kredit menjadi lebih tinggi untuk pemerintah, perusahaan, dan konsumen.

"Jika Tiongkok menggunakan senjata ini, kita akan menyaksikan panic selling di pasar saham AS dan global, tapi sepertinya Pemerintah Tiongkok masih akan menyimpan senjata ini," tuturnya.

Seperti yang sudah diperkirakan, Federal Reserve mempertahankan suku bunga di Rabu dan mempertahankan persepsi bahwa suku bunga akan terus ditingkatkan secara bertahap.

Walau demikian, pernyataan Federal Reserve memberi nuansa lebih optimistis sehingga dolar AS menguat. Komite Fed menyampaikan bahwa aktivitas ekonomi meningkat dengan laju yang pesat, dan belanja rumah tangga serta investasi bisnis pun meningkat tajam.

Sedikit perubahan bahasa ini menyiratkan bahwa kenaikan suku bunga dapat kembali ditingkatkan di September dan mungkin juga di Desember.

Emas melemah tanpa ampun karena dolar menguat pekan ini. Harga bergerak menuju support USD1.213 pada saat laporan ini dituliskan. Ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga AS mengurangi selera terhadap emas dan memperkuat dolar, sehingga logam mulia ini dapat semakin melemah. Penutupan harian tegas di bawah USD1.213 dapat memicu penurunan menuju level psikologis USD1.200.


(AHL)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA