Harga Minyak Kokoh Dipicu Kekhawatiran Pasokan di Iran-Libya-Kanada

   •    Selasa, 10 Jul 2018 08:03 WIB
minyak mentah
Harga Minyak Kokoh Dipicu Kekhawatiran Pasokan di Iran-Libya-Kanada
Ilustrasi (AFP PHOTO/SCOTT HEPPELL)

New York: Harga minyak dunia bergerak naik pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), dengan minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengakhiri sesi berombak lebih tinggi karena ekspektasi penghentian produksi Kanada yang berlangsung hingga September.

Sementara itu, patokan global Brent naik dipicu kian mendekatnya penerapan sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan penurunan produksi di Libya. Di Kanada, gangguan pada fasilitas ladang minyak Syncrude 360.000 barel per hari telah mengurangi aliran ke Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk minyak berjangka AS.

Mengutip Antara, Selasa, 10 Juli 2018, minyak mentah berjangka AS atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 5,0 sen AS menjadi menetap di USD73,85 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan minyak mentah Brent untuk pengiriman September bertambah 96 sen AS menjadi USD78,07 per barel di London ICE Futures Exchange.

"Kami terus melihat pasar minyak didukung dengan meningkatnya kekhawatiran tentang sanksi terhadap Iran, di mana para penyuling Eropa dan Korea harus mengurangi pembelian mereka hampir nol," kata Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow.



Amerika Serikat mengatakan ingin mengurangi ekspor minyak dari Iran, produsen terbesar kelima dunia, menjadi nol pada November, yang akan mewajibkan produsen besar lainnya untuk memproduksi minyak lebih banyak.

"Ada kekhawatiran bahwa peningkatan produksi Saudi dan Rusia sekarang mungkin hampir cukup untuk mengimbangi dan bukan hanya produksi Iran tetapi juga gangguan pasokan yang kami lihat dari Libya, Nigeria dan Kanada," kata Lipow.

Pemegang saham mayoritas Suncor Energy Inc mengatakan pada Senin 9 Juli bahwa beberapa produksi Syncrude akan kembali beroperasi pada Juli, lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun demikian, tidak akan melanjutkan operasi penuh hingga September, yang lebih lambat dari yang diharapkan.

 


(ABD)