USD Tumbang Jelang Rilis Data Lapangan Pekerjaan

   •    Jumat, 07 Sep 2018 09:47 WIB
dolar as
USD Tumbang Jelang Rilis Data Lapangan Pekerjaan
Ilustrasi (FOTO: AFP)

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah terhadap sekeranjang mata uang utama pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), karena investor mengatur posisi mereka menjelang laporan pekerjaan untuk Agustus yang sangat diantisipasi pada Jumat waktu setempat.

Mengutip Antara, Jumat, 7 September 2018, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun sebanyak 0,13 persen menjadi 95,061 pada akhir perdagangan. Indeks mencapai tertinggi dalam dua minggu pada Selasa waktu setempat.

"Dolar baru saja menyerahkan beberapa keuntungannya, secara umum, setelah berkinerja lebih baik, menjelang data pekerjaan penting besok," kata Analis Pasar Senior Western Union Business Solutions Joe Manimbo, di Washington.

"Ini hanya penyesuaian posisi menjelang data penggajian," tambahnya.

Pada Kamis 6 September, Laporan Pekerjaan Nasional ADP menunjukkan lapangan pekerjaan swasta meningkat 163.000 pekerjaan pada bulan lalu. Ekonom yang disurvei telah memperkirakan pekerjaan swasta meningkat 190.000 pekerjaan bulan lalu.

"Sementara laporan ADP memiliki catatan tidak menentu memprediksi komponen penggajian swasta dari laporan pekerjaan, itu mungkin merupakan petunjuk bahwa pertumbuhan lapangan kerja telah mulai memudar lagi setelah sangat kuat dalam paruh pertama tahun ini," kata Kepala Ekonom Capital Economics Paul Ashworth, di Toronto.

Sementara Federal Reserve berada di jalur untuk menaikkan suku bunga bulan ini untuk ketiga kalinya tahun ini, data Jumat akan membantu membentuk prospek suku bunga, kata Manimbo. USD juga berada di bawah tekanan karena para investor mencari yen Jepang dan franc Swiss, di tengah ketidakpastian berkelanjutan di bidang perdagangan.

Trump dapat mengenakan retribusi lebih dari USD200 miliar atas barang-barang impor dari Tiongkok pada Kamis 6 September ketika periode komentar publik tentang tarif baru berakhir. Itu akan mewakili peningkatan signifikan dari perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.

 


(ABD)