Capai Kesepakatan

Tiongkok Didorong untuk Membeli Lebih Banyak Barang AS

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 12 May 2018 19:02 WIB
ekonomi amerikaekonomi chinationgkokas-tiongkokPerang dagang
Tiongkok Didorong untuk Membeli Lebih Banyak Barang AS
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (FOTO: AFP)

Washington: Negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan para pemimpin Tiongkok terfokus pada upaya mendapatkan persetujuan dari Tiongkok untuk mau membeli lebih banyak barang dari AS. Dari pertemuan tingkat tinggi baru-baru ini, Tiongkok dan AS mencapai sebuah kemajuan meski tidak ditampik hambatan tetap ada.

"Orang Tiongkok sangat pandai dalam retorika perdagangan bebas, tetapi faktanya mereka mungkin adalah negara paling proteksionis di negara-negara besar," kata Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, seperti dikutip dari CNBC, di Washington, Sabtu, 12 Mei 2018.

Terlepas dari kritik, Ross paling tidak senang dengan kesediaan Tiongkok untuk mendengarkan dan menanggapi kekhawatiran AS atas jurang perdagangan yang terus meningkat dan Presiden Donald Trump telah berjanji untuk menjembatani. Sejauh ini, belum terdapat kesepakatan yang dinilai AS memberikan keuntungan.



"Itu adalah level yang tepat bagi orang-orang. Ada kesenjangan yang cukup besar antara apa yang mereka letakkan di atas meja dan apa yang kita rasakan dan yang kita butuhkan. Tapi tidak apa-apa, Anda mengharapkan seperti itu pada tahap ini dalam permainan," kata Ross.

AS telah memberikan daftar produk, seperti kedelai, yang ingin Tiongkok membeli lebih banyak. Sebelum berangkat, delegasi AS telah menetapkan daftar tuntutan yang telah ditanggapi oleh pejabat Tiongkok pada saat delegasi AS tiba. Sementara Ross mengatakan bahwa banyak kemajuan, namun masih banyak yang harus dilakukan.

"Kami menjual lebih banyak kepada mereka agar kita memiliki lebih banyak uang untuk ekonomi kita, dan itu mungkin kurang mengganggu ekonomi mereka," kata Ross.

Situasi perdagangan Tiongkok adalah bagian dari diskusi yang lebih luas. Ross juga membahas tarif baru-baru ini yang telah mengancam AS untuk diterapkan secara global, terutama pada aluminium dan baja. Sementara AS menunda penerapannya karena terus bernegosiasi dengan pihak-pihak yang terkena dampak dan tenggat waktu 1 Juni sudah mendekati.

 


(ABD)