Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Meningkatnya Produksi Global

Angga Bratadharma    •    Jumat, 16 Jun 2017 08:26 WIB
minyak mentah
Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Meningkatnya Produksi Global
Ilustrasi (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Metrotvnews.com, New York: Harga minyak dunia menetap lebih rendah untuk hari kedua berturut-turut pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Hal itu karena pasar tidak dapat pulih dari penurunan akibat kejutan dalam persediaan bensin Amerika Serikat dan kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai pasokan global yang berat.

Namun, minyak mentah Brent LCOc1 jatuh ke sesi rendah di USD46,70 per barel, terlemah sejak 5 Mei dan mendekati posisi terendah enam bulan. Ini turun 8 sen menjadi USD46,92 per barel. Sedangkan CLc1 mentah AS menetap turun 27 sen menjadi USD44,46, setelah menyentuh level terendah enam bulan di USD44,32 per barel.

"Libya dan Nigeria telah membawa lebih banyak minyak secara online dan itu benar-benar menghalangi upaya OPEC," kata Tariq Zahir, pedagang minyak mentah dan anggota pengelola di Tyche Capital Advisors di New York, seperti dikutip dari Reuters, Jumat 16 Juni 2017.

Harga minyak dunia telah merosot meski terjadi penurunan produksi 1,8 juta barel per hari oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen non-OPEC termasuk Rusia. Pada 25 Mei, negara-negara tersebut mengatakan bahwa mereka sepakat untuk memperpanjang pemotongan sembilan bulan sampai Maret 2018.

Namun harga minyak mentah telah turun sekitar 12 persen sejak hari itu karena negara lain telah mendorong produksinya. Tidak ditampik, sejumlah pihak terus berupaya agar harga minyak dunia bisa kembali berada di posisi yang tinggi.

Ekspor minyak Arab Saudi diperkirakan akan mengalami penurunan di bawah 7 juta barel per hari pada musim panas ini, menurut sumber industri yang mengetahui masalah ini, dan ekspor minyak Rusia terlihat datar pada kuartal ketiga.

Libya telah melihat adanya gangguan pasokan utama dari protes dan perselisihan kontrak, namun minggu ini National Oil Company mengatakan bahwa produksi dilanjutkan di bidang kunci. Angka ekonomi AS terakhir, termasuk penjualan eceran, inflasi inti, dan produksi industri semuanya lemah, menimbulkan kekhawatiran tentang lintasan ekonomi.

 


(ABD)