Ketegangan Arab Saudi dan Iran Perkuat Harga Minyak Dunia

Angga Bratadharma    •    Rabu, 08 Nov 2017 16:01 WIB
minyak mentahopec
Ketegangan Arab Saudi dan Iran Perkuat Harga Minyak Dunia
Ilustrasi (FOTO: Xinhua)

Metrotvnews.com, Sydney: Harga minyak dunia membuat kenaikan yang cukup cepat semalam karena ketegangan geopolitik melonjak antara Arab Saudi dan Iran. Adapun kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan konflik yang dapat mengganggu pasokan dari dua produsen utama.

Namun, harga turun sedikit di awal perdagangan Asia pada Selasa karena pedagang terlibat dalam aksi ambil untung setelah kedua produsen mencapai tingkat yang tidak terlihat dalam lebih dari dua tahun. Sejauh ini, beberapa pihak terus melakukan langkah dan upaya agar harga minyak dunia bisa terus menguat.

"Ketegangan antara Iran dan Arab Saudi terlihat sebagai pengganggu utama dengan pasar yang bersangkutan bahwa pasokan dapat diputus jika terjadi konflik," kata Equities and Derivatives Adviser ASR Wealth Advisers Shane Chanel, di Sydney, seperti dikutip dari AFP, Rabu 8 November 2017.

Riyadh dan Teheran telah memperdagangkan tuduhan sengit atas keterlibatan mereka di Yaman, di mana Arab Saudi yang diperintah Sunni dan sebagian besar Syiah Iran kembali menentang pihak-pihak yang berkepentingan. Meski demikian, diharapkan kondisi tersebut tidak memberi efek negatif terhadap perekonomian dunia.

Dalam serangan terbaru, Arab Saudi mengatakan serangan rudal yang dicegat ke negara tersebut, yang diduga oleh pemberontak yang didukung Teheran di Yaman, mungkin merupakan tindakan perang. Teheran pada gilirannya menuduh Riyadh melakukan kejahatan perang di Yaman, meningkatkan ketegangan lebih lanjut.

Namun analis Chanel mengatakan bahwa tuduhan tersebut tampaknya tidak akan menimbulkan konflik penuh. Sekitar 0330 GMT, patokan AS West Texas Intermediate naik empat sen menjadi USD57,39 per barel sementara minyak mentah Brent turun delapan sen menjadi USD64,19 per barel.

"Rusia telah menjadi pendorong yang sangat penting dalam solidaritas OPEC dengan menyetujui bermain bola, namun juga mengancam untuk mendorong produksi membuat kesepakatan tersebut terjerumus," tambahnya.

 


(ABD)