Outlook Penguatan Ringgit Dapat Membebani Harga CPO

   •    Rabu, 06 Dec 2017 15:22 WIB
cpo
<i>Outlook</i> Penguatan Ringgit Dapat Membebani Harga CPO
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Wahdi Septiawan)

Jakarta: Harga crude palm oil (CPO) berpeluang kembali tertekan pada hari ini setelah kemarin ditutup di level terendah sejak 24 Juli di level 2.544 ringgit per ton dengan fokus investor tertuju pada penguatan ringgit dan ekspektasi kenaikan cadangan untuk periode November.

Analisa Departemen Riset Monex Investindo Futures, Rabu, 6 Desember 2017 memaparkan mata uang ringgit pada pukul 11.27 WIB terpantau menguat 0,1 persen di level 4,0650 per USD, berada di level terkuat dalam 14 bulan.

Ringgit yang menguat akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk para pemilik mata uang lainnya.

Sementara itu dari sisi produksi, investor saat ini mengkhawatirkan adanya kenaikan karena turunnya ekspor.

Dalam survei yang dilakukan oleh CIMB Futures terhadap 22 area perkebunan, output minyak sawit Malaysia kemungkinan akan naik satu persen pada tingkat bulanan menjadi 2,03 juta ton di November 2017.

Sementara itu dari sisi ekspornya, data statistik yang dirilis oleh Societe Generale de Surveilance dan Intertek Testing Services menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit kemungkinan turun sekitar 6,4 persen pada tingkat bulanan.

Rentang potensial perdagangan CPO pada hari ini akan berada dikisaran 2.440-2.470 dalam jangka pendek. Jika menembus ke bawah dari area 2.440, harga dapat melemah lebih lanjut menuju ke 2.420. Sementara itu jika break di atas level 2.470, harga CPO dapat menguat lebih lanjut menuju ke area 2.500.


(AHL)