Data Ekonomi Tiongkok Memburuk Akibat Perang Dagang

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 15 Dec 2018 10:01 WIB
ekonomi amerikaekonomi chinationgkokas-tiongkokPerang dagang
Data Ekonomi Tiongkok Memburuk Akibat Perang Dagang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (FOTO: AFP)

Beijing: Tiongkok melaporkan produksi industri dan pertumbuhan penjualan ritel untuk November meleset dari ekspektasi, menurut data dari Biro Statistik Nasional. Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan di tengah perselisihan perdagangan yang sengit dengan Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC, Sabtu, 15 Desember 2018, produksi industri pada November tumbuh 5,4 persen dibandingkan dengan tahun lalu yang merupakan laju paling lambat dalam hampir tiga tahun dan sesuai dengan tingkat pertumbuhan yang terlihat pada Januari hingga Februari 2016.

Sedangkan penjualan ritel naik 8,1 persen pada November -laju terlemah sejak 2003- lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan analis yang diharapkan mencapai 8,8 persen. Pertumbuhan penjualan ritel di November turun dibandingkan dengan posisi 8,6 persen di Oktober.

Investasi aset tetap atau Fixed Asset Investment (FAI) naik sebanyak 5,9 persen dari Januari hingga November, sedikit lebih tinggi dari posisi 5,8 persen yang diperkirakan para ekonom.

Data ekonomi dari Tiongkok diawasi dengan ketat oleh banyak kalangan di tengah serentetan sengketa perdagangan dengan Amerika Serikat di mana Presiden AS Donald Trump terus mengambil masalah defisit perdagangan besar oleh Tiongkok. Trump meminta agar defisit tersebut bisa ditekan sedemikian rupa.

"Data Tiongkok yang lemah pada November menunjukkan adanya tekanan ke bawah pada ekonomi Tiongkok meningkat. Produksi industri dan data penjualan ritel yang dirilis jelek," ungkap Kepala Strategi Valuta Asing Asia RBC Capital Markets Sue Trinh, di Hong Kong.

Biro Statistik Tiongkok mengatakan setelah data dirilis dampak dari ketegangan perdagangan bilateral dengan AS masih belum jelas. "Jadi yang terburuk belum datang dan pembuat kebijakan akan sangat khawatir, terutama dengan pertumbuhan konsumsi jatuh dari tebing," kata Trinh.

Adapun di KTT G20 di Argentina baru-baru ini, Trump setuju untuk tidak menaikkan tarif pada impor Tiongkok senilai USD200 miliar dari 10 persen menjadi 25 persen di Januari. Tapi, jika kedua negara gagal mencapai kesepakatan pada akhir gencatan senjata 90 hari, tarif yang terancam akan diterapkan, kata pernyataan Gedung Putih.

 


(ABD)


Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss
World Economic Forum 2019

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss

7 hours Ago

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi i…

BERITA LAINNYA