Januari 2019

Inflasi Zona Euro Turun Jadi 1,4%

   •    Sabtu, 02 Feb 2019 21:01 WIB
bank central eropaekonomi eropa
Inflasi Zona Euro Turun Jadi 1,4%
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Brussels: Eurostat memperkirakan inflasi di zona euro terus turun pada Januari 2019 atau menjadi 1,4 persen dibandingkan Desember 2018 sebesar 1,6 persen. Penurunan itu membuat kurs semakin jauh dari target bank sentral Eropa sebesar 2,0 persen, yang akan dianggap sebagai tanda pertumbuhan yang sehat di blok tersebut.

Mengutip AFP, Sabtu, 2 Februari 2019, kekhawatiran atas pertumbuhan dan inflasi membuat kecil kemungkinan ECB akan dapat menaikkan suku bunga acuan di tahun ini. Inflasi berdiri di 1,9 persen pada November 2018, tetapi telah jatuh khususnya karena harga energi yang lebih rendah.

Presiden Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) Mario Draghi sebelumnya terlihat berhati-hati dalam memberikan laporan terbaru atas kebijakan moneter zona euro. Pada konteks ini, ECB dihadapkan di sebuah risiko yakni kondisi ekonomi yang mungkin melambat dan pandangan inflasi yang suram.
 
Adapun Draghi mengarahkan bank sentral untuk keluar dari program pelonggaran kuantitatif (QE) dan menekankan kebijakan suku bunga acuan serta reinvestasi di masa mendatang. Langkah itu dilakukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi zona euro, termasuk menekan sejumlah risiko yang bisa datang kapan saja dan di mana saja.
 
"Kami mengharapkan ECB mengumumkan saat pertemuannya untuk mengakhiri pembelian neto (obligasi)," kata Dirk Schumacher dari Natixis dalam sebuah catatan.
 
Meski ada pelemahan yang jelas dalam lingkungan ekonomi, Dirk Schumacher menambahkan ECB akan berpendapat bahwa reinvestasi saham dan kepemilikan obligasi berpeluang memastikan sikap kebijakan akomodatif berkelanjutan dan membenarkan berakhirnya program.

Di sisi lain, ECB berencana mempublikasikan proyeksi terbarunya untuk pertumbuhan ekonomi dan inflasi selama tiga tahun ke depan. ECB diperkirakan menurunkan prospek pertumbuhan untuk dua tahun ke depan, meski angka-angka itu juga diyakini tetap cukup kuat untuk menggarisbawahi ECB keluar dari program pembelian obligasi.


(ABD)