Indeks FTSE-100 Inggris Ditutup Melonjak 1,28%

   •    Kamis, 10 May 2018 10:04 WIB
bursa efekbursa sahamekonomi inggris
Indeks FTSE-100 Inggris Ditutup Melonjak 1,28%
Ilustrasi (AFP PHOTO/SHAUN CURRY)

London: Saham-saham Inggris ditutup lebih tinggi pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), dengan indeks acuan FTSE-100 di Bursa Efek London, bertambah 96,77 poin atau 1,28 persen, menjadi 7.662,52 poin.

Mengutip Antara, Kamis, 10 Mei 2018, Imperial Brands, perusahaan rokok multinasional, melonjak 6,17 persen, menjadi peraih keuntungan terbesar di antara saham-saham unggulan. Disusul oleh saham BP dan Evraz, yang masing-masing meningkat 3,92 persen dan 3,51 persen.

Di sisi lain, Burberry Group mengalami kerugian paling besar di antara saham-saham unggulan, dengan sahamnya jatuh 6,08 persen. Diikuti oleh saham Compass Group, pemasok jasa katering dan dukungan, yang merosot 4,77 persen, serta Rolls-Royce Holdings, perusahaan teknologi terkemuka Inggris, turun 1,54 persen.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average naik 182,33 poin atau 0,75 persen menjadi berakhir di 24.542,54 poin. Indeks S&P 500 bertambah 25,87 poin atau 0,97 persen, menjadi ditutup di 2.697,79 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir 73,00 poin atau 1,00 persen lebih tinggi, menjadi 7.339,91 poin.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa 8 Mei, Trump mengumumkan bahwa AS keluar dari kesepakatan seraya menambahkan dia tidak akan menandatangani pelepasan sanksi-sanksi terkait nuklir terhadap Iran. Beberapa analis mengatakan keputusan Trump dapat mengirim harga minyak lebih tinggi, yang akan berdampak pada pendapatan perusahaan.

Harga minyak melonjak pada Rabu 9 Mei setelah keputusan Trump, dengan minyak mentah AS (WTI) dan minyak mentah Brent melompat di atas tiga persen. Terangkat oleh kenaikan harga minyak, saham-saham sektor energi melonjak 2,03 persen yang merupakan pencetak kemajuan terbesar di antara 11 sektor S&P 500.

Di sisi ekonomi, Indeks Harga Produsen (PPI) untuk permintaan akhir naik 0,1 persen pada April, disesuaikan secara musiman atau gagal memenuhi konsensus pasar untuk kenaikan 0,3 persen, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan.

 


(ABD)