Tiongkok Siap Balas Tarif Trump Demi Martabat Bangsa

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 04 Aug 2018 19:03 WIB
ekonomi chinationgkokPerang dagang
Tiongkok Siap Balas Tarif Trump Demi Martabat Bangsa
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

Beijing: Pemerintah Tiongkok tidak mengambil ancaman tarif terbaru Amerika Serikat (AS) dengan ringan dan bersumpah untuk membalas jika AS bergerak maju. Adapun perang dagang yang terjadi antara Washington dan Beijing diharapkan tidak berlarut-larut karena bisa memberikan dampak buruk terhadap perekonomian dunia.

"Tiongkok sepenuhnya siap dan harus membalas untuk membela martabat bangsa dan kepentingan rakyat termasuk membela perdagangan bebas dan sistem multilateral, dan membela kepentingan bersama semua negara," kata Kementerian Perdagangan Tiongkok dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir dari CNBC, Sabtu, 4 Agustus 2018.

Pernyataan Kementerian Perdagangan Tiongkok itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menginstruksikan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer untuk mempertimbangkan menaikkan tarif yang diusulkan pada USD200 miliar barang-barang Tiongkok menjadi 25 persen dari sebelumnya yang sebesar 10 persen.

Derek Scissors, seorang sarjana di American Enterprise Institute, menilai peningkatan tarif yang diusulkan dimaksudkan untuk memperhitungkan penurunan tajam dalam mata uang Tiongkok. Dalam enam bulan terakhir Tiongkok telah membiarkan mata uangnya, renminbi, terdepresiasi sebanyak delapan persen sejak musim semi.



"Jika Anda akan menerapkan tarif 10 persen dan mata uang mereka semakin murah delapan persen maka Anda telah kehilangan sebagian besar efek tarif 10 persen," ungkap Derek Scissors.

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang merupakan dua negara dengan ekonomi terbesar dunia terus meningkat dari waktu ke waktu. AS telah memberlakukan tarif pada USD34 miliar barang impor Tiongkok dan Tiongkok membalas aksi serupa kepada Amerika Serikat.

"Administrasi Trump terus mendesak Tiongkok untuk menghentikan praktik tidak adil, meminta untuk membuka pasar, dan terlibat dalam persaingan pasar sejati. Sayangnya, alih-alih mengubah perilaku berbahayanya, Tiongkok telah secara ilegal membalas terhadap pekerja AS, petani, peternak dan bisnis," kata Lighthizer, beberapa waktu lalu.

Adapun kekhawatiran seputar perdagangan telah membuat investor gelisah ketika mereka mencoba untuk menilai apa yang akan menjadi dampak dari perang perdagangan global di pasar modal dan ekonomi global. Tentu ada harapan perang dagang tidak berkelanjutan karena berpeluang membebani pasar saham.

 


(ABD)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

2 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA