Jelang Pertemuan Trump dan Kim, Bursa Asia Cenderung Menguat

   •    Senin, 11 Jun 2018 19:11 WIB
Jelang Pertemuan Trump dan Kim, Bursa Asia Cenderung Menguat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (AFP).

Jakarta: Jelang pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura bursa saham Asia bergerak volatile dengan kecenderungan menguat. Indeks acuan Jepang, Singapura, Korea serta Hong Kong bergerak naik sedangkan bursa acuan Hong Kong minus.

Dalam pantauan Medcom.id, Senin, 11 Juni 2018, indeks acuan Jepang Nikkei naik 109,54 poin dengan berada pada 22.804,04. Setelah itu indeks acuan Hong Kong atau Hang Seng Index naik 105,49 poin dengan berada pada 31.063,70 poin. Indeks acuan Singapura naik 5,32 poin. Kemudian indeks acuan Tiongkok, Shanghai minus 14,79 poin dengan berada pada 3.052,36.

Investor masih menantikan pembahasan dalam pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura pada 12 Juni. Pertemuan merupakan kali pertama dari seorang presiden aktif di AS dengan pemimpin rezim Pyongyang.

Pembahasan kedua tokoh dunia itu mulai dari program senjata nuklir hingga normalisasi hubungan kedua negara, berikut beberapa isu yang mungkin akan diangkat dapat pertemuan Trump dengan Kim di Hotel Capella, Pulau Sentosa, seperti disampaikan kantor berita AFP, Senin 11 Juni 2018.

Washington mendesak denuklirisasi menyeluruh, dapat diverifikasi dan tidak bisa dibatalkan dari program nuklir Korut. Trump pernah meminta Korut untuk  menyingkirkan program nuklir mereka.

Sementara Pyongyang telah berulang kali mengekspresikan komitmen terhadap "denuklirisasi di Semenanjung Korea." Namun pernyataan tersebut dapat diinterpretasikan berbeda antar kedua kubu, dan hingga kini belum dapat dipastikan konsesi apa yang akan Kim tawarkan.

Korea Selatan mengestimasi Korut memiliki 50 kilogram plutonium, cukup untuk membuat sekitar 10 bom. Seoul juga menilai Korut mampu membuat senjata uranium.   eberapa perjanjian sebelumnya dengan Korut telah berakhir gagal, dan sejumlah pakar mengingatkan bahwa Kim kemungkinan besar tidak akan menyerahkan senjata miliknya.


 
(SAW)