Sri Mulyani: Asia Timur Hadapi Lima Tantangan Ekonomi

Suci Sedya Utami    •    Rabu, 10 Oct 2018 20:46 WIB
IMF-World Bank
Sri Mulyani: Asia Timur Hadapi Lima Tantangan Ekonomi
Menkeu Sri Mulyani. MI/SUSANTO.

Nusa Dua: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan Kawasan Asia Timur masih menghadapi tantangan dalam memajukan ekonominya.  

Hal tersebut dia katakan dalam seminar regional bertema Resurgent East Asia: Adapting Its Developing Model to a Changing World. Ani sapaan akrabnya menguraikan lima tantangan tersebut di antaranya kemiskinan, kesenjangan, tata kelola, perubahan iklim, dan infrastruktur.

Dia bilang upaya mengurangi kemiskinan masih menjadi agenda yang belum selesai di banyak negara bahkan dengan pendapatan per kapita yang relatif tinggi. Di Indonesia sendiri dalam sejarah untuk pertama kalinya kemiskinan di bawah angka 10 persen.

Dirinya mengatakan kesenjangan pendapatan semakin meningkat karena perekonomian yang tidak inklusif di kawasan tersebut.  Isu tata kelola, pelayanan publik yang buruk, lemahnya lembaga pemerintahan dan korupsi masih menjadi tantangan di kawasan ini.

Selain itu cuaca yang ekstrem seperti banjir, kekeringan dan serangan gelombang panas turut memperburuk situasi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga diperparah oleh ketidakefisienan infrastruktur.

Lambatnya pertumbuhan ekonomi kawasan juga dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama keseimbangan baru perekonomian Tiongkok, kedua bertambah tuanya populasi, ketiga proteksi perdagangan yang dilakukan oleh negara maju.

“Untuk menghadapi berbagai challenges itu kita perlu mengarah kebijakan yang lebih positif,” kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Ani bilang melakukan optimalisasi terhadap manfaat globalisasi dan kemajuan tekologi bisa menjadi salah satu solusi untuk menyelesaikannya. Dia berharap adanya kerangka kerja sama internasional yang bisa dijalankan setiap negara demi menciptakan level bermain yang sama.

Dia pun berharap negara-negara Asia Timur dapat bersama-sama menyalurkan aspirasi agar perekonomian global menjadi lebih baik. Selain itu, para pembuat kebijakan harus mengadopsi yang mengedepankan inklusifitas sosial.

Seperti misalnya mengurangi ketidakseimbangan terhadap peluang, kesempatan kerja dan meningkatkan akses kepada pendidikan, pelayanan kesehatan dan jaminan sosial. Ia juga mengingatkan agar kemajuan teknologi dapat mengedepankan Inklusivitas.

“Di Indonesia kita bisa menyaksikan peran yang besar dari teknologi digital yang menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan.  Misalnya dengan menghubungkan antara sektor informal dengan sektor ekonomi formal," jelas dia.


(SAW)


Pameran Seni Kontemporer Art Bali

Pameran Seni Kontemporer Art Bali

1 hour Ago

Pameran seni rupa kontemporer Art Bali menjadi salah satu venue yang menarik perhatian delegasi…

BERITA LAINNYA