Inggris Terbitkan Rencana Cetak Biru Brexit

Angga Bratadharma    •    Jumat, 13 Jul 2018 14:05 WIB
brexitekonomi inggris
Inggris Terbitkan Rencana Cetak Biru Brexit
Perdana Menteri Inggris Theresa May (AFP PHOTO/Niklas HALLE'N)

London: Pemerintah Inggris pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB) menerbitkan cetak biru Brexit yang sudah ditunggu-tunggu untuk memulai kembali pembicaraan yang macet dengan Uni Eropa. Tidak ditampik, keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit memunculkan pro dan kontra karena bisa berdampak terhadap aktivitas perekonomian.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan rencananya untuk mempertahankan hubungan ekonomi yang erat dengan Uni Eropa (UE) begitu Inggris meninggalkan blok pada Maret mendatang adalah berprinsip dan pragmatis. Hal ini sejalan dengan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan menekan sejumlah risiko yang bisa datang.

Mengutip CNBC, Jumat, 13 Juli 2018, dengan kondisi itu Inggris mengikuti aturan UE tentang barang untuk melindungi perdagangan lintas batas dan menghindari pemeriksaan di perbatasan Irlandia. Sementara memungkinkan Inggris untuk mengawasi migrasi dan menandatangani kesepakatan perdagangan non-UE baru, termasuk dalam layanan.



Namun gagasan untuk tetap terikat pada blok itu selama bertahun-tahun, setelah Brexit mendorong dua menteri mundur dari kabinetnya minggu ini, dan telah menghidupkan kembali pembicaraan tentang tantangan kepemimpinan di partai Konservatif pada Mei.

Ketika hal ini akhirnya dipublikasikan dalam dokumen 98 halaman, anggota parlemen Eropa dengan cepat mengecam rencana tersebut dan dibantu oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kondisi ini memunculkan fenomena baru terkait rencana Brexit oleh Theresa May.

"Saya tidak tahu bahwa ini adalah apa yang orang pilih dalam referendum Brexit pada 2016," kata Trump, ketika dirinya menuju ke Inggris untuk perjalanan resmi pertamanya.



Rencananya adalah memenangkan dukungan dari beberapa kelompok bisnis, tetapi Kota London memperingatkan penyediaan untuk hubungan yang lebih longgar untuk layanan keuangan adalah pukulan nyata untuk sektor yang sangat penting.

Tanggapan dari Uni Eropa, yang akhirnya harus menyetujui kesepakatan itu, berhati-hati dengan Kepala Perunding Michel Barnier yang mengatakan di twitter bahwa ia akan menganalisis proposal tersebut. Inggris memilih Brexit pada Juni 2016, tetapi May tidak dapat menyajikan rencana terperinci ke Brussels hingga sekarang karena adanya perpecahan.

 


(ABD)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

1 hour Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA