Parlemen Inggris Diminta Diberikan Suara terkait Brexit

Angga Bratadharma    •    Senin, 17 Oct 2016 09:12 WIB
brexit
Parlemen Inggris Diminta Diberikan Suara terkait Brexit
Perdana Menteri Inggris Theresa May (REUTERS/Toby Melville)

Metrotvnews.com, London: Perdana Menteri Inggris Theresa May akan berada di bawah tekanan untuk mengungkapkan strateginya mengenai terjadinya Brexit sebelum dirinya melakukan negosiasi secara formal untuk meninggalkan Uni Eropa. Sejauh ini, May masih melakukan perundingan perdagangan usai terjadinya Brexit.

Sebuah kelompok lintas partai pada akhir pekan lalu menuntut pemerintah agar berencana untuk menerbitkan 'garis substantif' dan mengirimkan hal itu kepada pemungutan suara di parlemen sebelum memohon Pasal 50 Perjanjian Lisbon, yang merupakan mekanisme formal untuk menarik diri dari keanggotaan Uni Eropa.

Kelompok yang mencakup mantan Wakil Perdana Menteri Nick Clegg dan mantan pemimpin Partai Buruh Ed Miliband ini berpendapat bahwa referendum Brexit di Juni hanya meminta pemilih apakah mereka ingin keluar dari blok 28-negara, dan bukan pada hal lainnya

Baca: Inggris Upayakan Kesepakatan Terbaik Jadi Prioritas Mutlak Usai Brexit

"Referendum adalah mandat Brexit, tetapi tidak ada mandat dari referendum untuk merusak. Ini bukan tentang memutarbalikkan hasil tetapi memberikan parlemen suara untuk menentukan mengenai keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa," kata Miliband, seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/10/2016).


Perdana Menteri Inggris Theresa May (REUTERS Damir Sagolj)

Spekulasi semakin berkembang bahwa May bertekad untuk menentukan pengekangan terkait imigran yang bisa menjadi ongkos bagi Inggris atas tarif bebas untuk pasar tunggal di Eropa dari 450 juta orang, yang hal ini dinilai bisa merusak perekonomian.

Kekhawatiran tentang Brexit disebut-sebut telah mengirim poundsterling berada di level terendah untuk tiga dekade. USD mengalami penguatan di awal perdagangan asia, sedangkan poundsterling berkubang dekat posisi terendah baru-baru ini di tengah kekhawatiran tentang kemungkinan adanya dampak dari keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit.

Baca: Menghukum Industri Keuangan Inggris Tidak Berpengaruh ke Uni Eropa

Sebelumnya, Jepang, Kanada, dan pasar Amerika Serikat (AS) tutup pada perdagangan Senin untuk liburan. Sedangkan poundsterling turun 0,1 persen terhadap USD menjadi USD1,2347 atau sedikit lebih rendah dari semalam di USD1,2345. Hal itu terjadi usai adanya sedikit insiden sehingga mengirimkan poundsterling ke level terendah dalam 31 tahun terakhir.

 


(ABD)