Menkeu Sri Mulyani Masih Mewaspadai Gejolak Ekonomi Global di 2018

Desi Angriani    •    Rabu, 06 Sep 2017 19:05 WIB
ekonomi global
Menkeu Sri Mulyani Masih Mewaspadai Gejolak Ekonomi Global di 2018
Menkeu Sri Mulyani (MI/MOHAMAD IRFAN).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI RI mengaku masih mewaspadai risiko ekonomi global terhadap kondisi perekonomian nasional. Kebijakan proteksionis Amerika Serikat dan tren relabancing perekonomian Tiongkok diperkirakan dapat mempengaruhi target pemerintah pada 2018.

"Kita tetap waspada dengan tren perdagangan terutama dengan AS dan juga kita akan tetap melihat risiko dari tren rebalancing dari perekonomian Tiongkok," katanya saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu 6 September 2017.

Ani, sapaan akrabnya, menuturkan, risiko global lainnya seperti harga komoditas, konflik di semenanjung Korea dan proses Brexit yang juga menjadi perhatian pemerintah. Meski demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2018 masih ditetapkan sebesar 5,4 persen.

"Ekonomi Indonesia pada 2018 diperkirakan membaik jadi 5,4 persen. Butuh kebijakan untuk menghadapi ketidakpastian global dan mengakselerasi program yang menghasilkan," tambah dia.

Adapun momentum pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan masih bergantung kepada konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor. 

"Konsumsi rumah tangga harus dijaga di atas lima persen, maka daya beli harus diperkuat dengan inflasi harus dipertahankan rendah. Kalau inflasi dijaga, maka konsumen lebih confident untuk belanja," tutup dia.

Dalam asumsi makro RAPBN 2018 pertumbuhan ekonomi ditetapkan 5,2-5,6 persen, inflasi 2,5-4,5 persen tahun depan, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan sebesar 4,8-5,6 persen dan nilai tukar rupiah dalam kisaran Rp13.300-Rp13.500 per USD.

Sedangkan, harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar USD45-USD55 per barel. Sementara lifting minyak dan gas tetap, masing-masing sebesar 771 ribu-815 ribu barel per hari dan 1,19 juta-1,23 juta barel per hari setara minyak.

Adapun target defisit anggaran pada kisaran 1,9-2,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Perkiraan belanja negara sebesar Rp2.204 triliun-Rp2.349 triliun atau sekitar 15,1-16 persen dari PDB dan pendapatan negara sekitar 12,9-14,1 persen dari PDB.





(SAW)