Dolar AS Kokoh di Tengah Kritik Trump

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 13 Oct 2018 08:32 WIB
dolar as
Dolar AS Kokoh di Tengah Kritik Trump
Ilustrasi (MI/ARYA MANGGALA)

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) naik tipis pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) yang mencerminkan kepercayaan investor dalam perekonomian Amerika Serikat. Hal itu terjadi meski ada kritik dari Presiden AS Donald Trump kepada Federal Reserve dan adanya penjualan di ekuitas AS.

Mengutip CNBC, Sabtu, 13 Oktober 2018, indeks USD, ukuran nilai terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan naik sebanyak 0,2 persen menjadi 95,23 pada Jumat, tepat di bawah level tertinggi bulanan 96,15 pada Selasa. Meski demikian, ada perkiraan USD kembali melemah lantaran the Fed berencana kembali menaikkan suku bunga.

Penurunan baru-baru ini di pasar saham belum menyebar ke pasar valuta asing, dengan mata uang negara-negara berkembang masih menguat dan yen Jepang serta franc Swiss tidak bergoyang secara signifikan. USD telah meningkat 2,5 persen sejak Juli di tengah kenaikan suku bunga dan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Tapi penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan kenaikan lebih lemah dari perkiraan dalam harga konsumen AS memicu USD turun, karena para pedagang memotong taruhan mereka pada kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve. Kenaikan suku bunga biasanya memberikan efek terhadap indikator perekonomian AS lainnya.

"Kami meragukan USD akan mendapatkan dukungan siklikal lebih lanjut hingga akhir tahun ini. Ketidakpastian politik juga dapat merongrong USD menjelang pemilihan jangka menengah pada 6 November," kata Kepala Riset Pasar Global Eropa MUFG Derek Halpenny.

Bahkan, analis lain melihat beberapa tanda USD akan jatuh lebih dalam. Pasalnya, pejabat the Fed mengatakan bulan lalu mereka memperkirakan tiga kenaikan suku bunga pada 2019. Kenaikan tersebut sejalan dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat, disertai terkendalinya tingkat inflasi.

"Jika pasar ekuitas bisa tenang kembali dengan cepat tanpa perkembangan menyebar ke pasar aset lainnya, tidak ada alasan dalam pikiran kita mengapa Fed seharusnya tidak melanjutkan kenaikan suku bunga seperti yang direncanakan," kata Ahli Strategi FX di Commerzbank Esther Maria Reichelt, di Frankfurt.

Yen Jepang, mata uang pilihan pada saat gejolak pasar, diperdagangkan di 112,34 pada Jumat. Yuan Tiongkok turun 0,6 persen menjadi 6,9198 terhadap USD, penurunan harian terbesar dalam enam minggu. Sedangkan dolar Australia berada di USD0,7122, pulih dari level terendah dua tahun pada USD0,7039.


(ABD)