Wall Street Bervariasi di Tengah Data Ekonomi

Angga Bratadharma    •    Kamis, 13 Sep 2018 07:01 WIB
wall street
Wall Street Bervariasi di Tengah Data Ekonomi
Ilustrasi (FOTO: AFP)

New York: Bursa saham Wall Street ditutup bervariasi pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena Wall Street mencerna rilis data ekonomi. Di sisi lain, para investor masih terus mencermati keberlanjutan perang dagang yang dilakukan Amerika Serikat dengan mitra dagang utamanya.

Mengutip Xinhua, Kamis, 13 September 2018, indeks Dow Jones Industrial Average naik 27,86 poin atau 0,11 persen menjadi 25.998,92. Sedangkan S&P 500 naik sebanyak 1,03 poin atau 0,04 persen menjadi 2.888,92. Indeks Nasdaq Composite turun 18,24 poin atau 0,23 persen menjadi 7.954,23.

Saham Boeing dan Caterpillar, perusahaan dengan eksposur pendapatan luar negeri yang tinggi, masing-masing naik 2,36 persen dan 1,58 persen pada penutupan. Saham Apple berakhir 1,24 persen lebih rendah. Raksasa teknologi AS meluncurkan iPhone terbaru dan jam tangan baru bernama Apple Watch Series 4 pada Rabu.

Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 diperdagangkan lebih tinggi, dengan saham telekomunikasi dan konsumen memimpin kenaikan. Sektor teknologi turun 0,5 persen. Saham beberapa produsen cip AS ditarik kembali. Saham Micron Technology dan Lam Research turun masing-masing 4,27 persen dan 3,24 persen pada penutupan pasar.



Pada data ekonomi, Indeks Harga Produsen AS turun 0,1 persen pada Agustus, Departemen Tenaga Kerja melaporkan. Indeks permintaan akhir naik 2,8 persen untuk 12 bulan yang berakhir pada Agustus. Penurunan Agustus dalam indeks permintaan akhir terutama disebabkan oleh penurunan harga untuk layanan permintaan akhir, kata laporan itu.

Dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terus-menerus mempermainkan sistem perdagangan dunia dengan mengenakan tarif tinggi memberikan beban tersendiri terhadap pergerakan pasar saham. Namun, tidak ada yang abadi dan di beberapa titik para investor harus bereaksi jika ketegangan sengketa perdagangan terus meningkat.

Menjalankan serangkaian skenario yang berbeda dalam konflik AS-Tiongkok, para ahli di FactSet telah datang dengan skenario perang perdagangan terburuk, di mana sebagian besar ekonomi utama akan terpukul dan AS, bersama dengan beberapa orang lainnya, akan melihat pasar bearish muncul.

 


(ABD)