Membedah Kebijakan Ekonomi Trump

Ade Hapsari Lestarini    •    Senin, 14 Nov 2016 07:03 WIB
ekonomi amerikapemilu as
Membedah Kebijakan Ekonomi Trump
Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Di balik retorika kampanyenya yang keras, kemenangan Presiden terpilih Donald Trump didasari oleh rasa frustasi pendukungnya terhadap arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Trump bersumpah untuk mengubahnya, yang masih terlihat saat ini.

Seperti yang selalu dijanjikan dalam kampanyenya, Trump telah mempunyai beberapa tujuan besar dalam kebijakan ekonominya. Dia berjanji akan menciptakan 25 juta lapangan kerja dalam kurun waktu 10 tahun serta meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi sebesar empat persen per tahun, naik dua kali lipat dibandingkan dalam 12 bulan terakhir secara tahun ke tahun.

Rencananya cukup spesifik, sehingga meninggalkan para investor dan pemimpin bisnis menunggu untuk melihat kebijakan ekonominya dan kabinetnya untuk mengerjakannya. Mengutip CNBC, Senin, 14 November, berikut beberapa isu utama kebijakan ekonomi Trump.

Baca: Kekhawatiran Dunia Atas Trump Bisa Jadi Reaksi Sesaat

Pengeluaran pemerintah

Salah satu janji Trump, yang selalu diulang-ulang selama masa kampanyenya, adalah program belanja infrastruktur besar-besaran. Selain itu, suami dari Melania Trump ini berjanji untuk meningkatkan belanja kemiliteran AS.

"Kami akan memperbaiki kota ini dan membangun kembali jalan raya, jembatan, terowongan, bandara, sekolah, dan rumah sakit. Kita akan membangun kembali infrastruktur di negeri ini. Dan kita akan menempatkan jutaan orang untuk bekerja membangun kembali," ujar Trump dalam salah satu janji kampanyenya.

Janji ini senada dengan yang diucapkan Hillary Clinton, pesaingnya dalam calon kandidat presiden AS. Banyaknya stimulus ekonomi yang akan digelontorkan pasca-resesi di Negeri Adi Daya tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi AS.


Sumber: Wall Street Journal

Lapangan pekerjaan

Investasi di bidang infrastruktur juga bisa menciptakan jutaan lapangan kerja dengan bayaran yang relatif tinggi. Meskipun masih harus dilihat apakah akan ada cukup pekerja terampil untuk memenuhi bidang tersebut. Pasar tenaga kerja yang cukup ketat membuat beberapa pengusaha sulit untuk mencari tenaga yang sesuai di bidangnya.

Program lapangan kerja Trump juga menghadapi beberapa kendala di mana salah satu janjinya dalam kampanye akan membatasi imigran. Para ekonom sepakat bahwa perlambatan pertumbuhan angkatan kerja di dekade terakhir telah menciptakan angin besar bagi ekonomi untuk berekspansi. dengan membatasi keberadaan imigran, apalagi mendeportasi jutaan imigran yang berada di AS, akan lebih memperlambat jumlah tenaga kerja untuk memenuhi programnya.

Baca: Retorika Kampanye Trump Belum Tentu Jadi Kebijakan AS

Pemotongan pajak

Dalam kampanyenya, Trump juga berjanji untuk memperbaiki kode pajak, sesuatu hal yang sudah ditunggu sejak lama. Trump berencana untuk memotong pajak perusahaan dan menawarkan satu kali kesempatan kepada perusahaan yang telah "menyembunyikan" ratusan miliar keuntungan di luar negeri untuk menghindari pajak di AS.

Selain itu, Trump akan memangkas pajak bagi semua warga negara Amerika, mengurangi braket pajak dari 39,6 persen menjadi 33 persen. Dia juga mengatakan akan menutup celah pajak bagi pekerja yang berpenghasilan tinggi dan memberi keringanan pajak bagi keluarga untuk menutupi biaya penitipan anak.

Dalam jangka pendek, memotong pajak penghasilan pribadi akan menghemat belanja uang lebih banyak bagi warga negara Amerika, di mana hal ini bisa menghasilkan dorongan ekonomi lebih besar. Saat ini, rumah tangga berpenghasilan rendah cenderung menghabiskan pemotongan pajak daripada mereka yang berpenghasilan lebih besar.

Baca: Sri Mulyani: Retorika Politik Ekonomi Trump Pengaruhi Dunia

Defisit anggaran

Namun demikian, masih harus dilihat bagaimana Trump berencana untuk membayar pemotongan pajak, pembangunan infrastruktur yang massif, serta untuk pengeluaran militer yang lebih besar. Berbagai perkiraan menyebut bahwa Trump akan menempatkan biaya pajaknya sebesar USD6 triliun dalam kurun waktu 10 tahun.

"Sulit dipercaya bahwa Kongres yang berpikiran konservatif akan bersedia untuk menyetujui defisit anggaran tersebut. Ini akan menempatkan beban utang federal melebihi 100 persen dari PDB dalam beberapa tahun," tutur Ekonom dari Capital Economics, Paul Ashworth.




Suku bunga

Lembaga pemeringkat kredit Departemen Keuangan melihat adanya ketidakpastian kebijakan ekonomi yang dilontarkan Trump karena ada potensi defisit yang lebih tinggi sehingga menimbulkan kekhawatiran di pasar obligasi terhadap risiko kebijakan ekonomi ini.

Lembaga pemeringkat kredit obligasi, Fitch, bahkan telah memperingatkan dampaknya akan menjadi "negatif" jika kebijakan Trump diimplementasikan secara penuh. Selain itu, Fitch menyebut koherensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi akan memburuk dan menimbulkan risiko bagi investor obligasi.

Kekhawatiran selanjutnya adalah investor dunia bisa melihat jika pasar obligasi Amerika berisiko sehingga bisa menaikkan suku bunga dan meningkatkan biaya pinjaman. Hal ini juga bisa mendorong suku bunga KPR lebih tinggi, yang bisa mempersulit pembeli rumah untuk mendapatkan pinjaman serta membuat industri perumahan bergejolak.




Perdagangan

Kebijakan ekonomi dia selanjutnya di bidang perdagangan. Trump membuat kebijakan perdagangan AS menjadi hal utama dalam kampanyenya, dan mengancam menerapkan tarif yang sangat rendah bagi barang-barang keluaran Tiongkok. Selain itu, pihaknya akan merenegosiasi perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara dengan Meksiko dan Kanada serta menjegal kebijakan kerja sama Trans Pasifik milik pemerintahan Obama.

Dalam jangka pendek, belum terlalu jelas seberapa besar dampak hal-hal tersebut terhadap ekspor Amerika. Banyak yang tergantung tentang bagaimana mitra dagang AS akan merespons hal ini jika Trump benar-benar menerapkan kebijakan ini.

Impor yang rencananya akan dikenakan tarif tinggi dinilai bisa meningkatkan harga konsumen AS dan juga bisnis di negara itu, kemungkinan juga akan memicu inflasi yang lebih tinggi serta bisa menjadi satu pekerjaan tersendiri bagi bank sentral The Federal Reserve (The Fed).

Bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunganya lebih tinggi secepatnya, segera setelah para anggota dewan The Fed mengadakan pertemuan rutinnya pada bulan depan. Kendati demikian, Trump melembutkan sikap kerasnya dalam sektor perdagangan, pengiriman impor secara keseluruhan, dan ekspor yang sudah mulai melambat di seluruh dunia.


(AHL)