Wall Street Ditutup di Zona Hijau

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 14 Jul 2018 07:01 WIB
wall street
Wall Street Ditutup di Zona Hijau
Ilustrasi (FOTO: Pando)

New York: Bursa saham Wall Street ditutup lebih tinggi pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena investor mencerna laporan pendapatan perusahaan triwulanan. Namun, investor juga mencermati munculnya katalis negatif dari perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 14 Juli 2018, indeks Dow Jones Industrial Average naik sebanyak 94,52 poin atau 0,38 persen menjadi 25.019,41. Sedangkan S&P 500 menguat sebanyak 3,02 poin atau 0,11 persen menjadi 2.801,31. Lalu, indeks Nasdaq Composite naik sebanyak 2,06 poin atau 0,03 persen menjadi 7.825,98.

Penghasilan perusahaan di kuartal kedua diperkirakan meningkat 20,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tidak termasuk sektor energi, estimasi pertumbuhan pendapatan menurun menjadi 16,9 persen, menurut statistik terbaru yang dirilis oleh Thomson Reuters.

Beberapa bank terbesar di AS melaporkan hasil kuartalan campuran pada Jumat sebelum bel pembukaan. JPMorgan Chase mencatat rekor laba kuartal kedua sebesar USD8,32 miliar atau naik 18 persen dari tahun ke tahun. Pendapatan perdagangannya naik 13 persen menjadi USD5,4 miliar dan melebihi ekspektasi analis.



Sementara itu, Citigroup melaporkan laba kuartalan yang lebih kuat dari perkiraan tetapi pendapatannya meleset dari perkiraan analis. Wells Fargo melaporkan pendapatan dan laba yang lebih rendah untuk kuartal kedua, jatuh jauh dari harapan. Investor berharap kondisi ini bisa membaik di masa mendatang.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah bersumpah bahwa perang dagang itu baik dan mudah untuk dimenangkan. Namun, ancaman yang dilontarkan Washington kepada Beijing melalui pemberlakuan tarif perdagangan yang tinggi dinilai sulit untuk diidentifikasi apa manfaat positifnya.

"Dan karena Trump telah menolak aturan lama yang menyerukan sengketa perdagangan untuk ditangani oleh Organisasi Perdagangan Dunia maka ada sedikit harapan untuk penyelesaian jangka pendek. Negara-negara lain yang terlibat benar-benar tidak dapat bernegosiasi. Satu-satunya pilihan adalah membalas," kata mantan Perunding Perdagangan AS Matthew Gold.

Beberapa waktu yang lalu, administrasi Trump mulai memberlakukan tarif sebanyak 25 persen pada USD34 miliar barang-barang impor Tiongkok. Sebagai tanggapannya, Tiongkok menerapkan tarif pembalasan atas beberapa impor dari AS, kata Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

 


(ABD)