Perang Dagang Makin Sulit Ditebak

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 05 Oct 2018 10:53 WIB
ekonomi globalPerang dagang
Perang Dagang Makin Sulit Ditebak
Menko Perekonomian Darmin Nasution (MI/PANCA SYURKANI)

Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai perang dagang yang terjadi saat ini semakin sulit ditebak. Pasalnya, hampir semua negara mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengantisipasi dampak perang dagang.

"Masing-masing mulai mengembangkan strategi yang bercabang-cabang. Jadi situasi ketidakstabilan global itu tidak bisa dihindari dan itu akan jalan terus," kata Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution, di Kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Jumat, 5 Oktober 2018.

Menurut Darmin ketegangan perang dagang yang terjadi saat ini sudah tidak bisa dihentikan lagi. Jika sebelumnya perang dagang diprediksi selesai pada kuartal I-2019, namun kelihatannya ketidakpastian perang dagang masih akan berlanjut.

"Kalau tadinya dibilang paling kuartal I tahun depan (selesai), kayaknya enggak. Karena perangnya bukan makin reda, melainkan variatif. Tidak sekadar kenaikan tarif, tapi sekarang sudah mulai turunkan tarif dari yang lain dan ada yang bilang bikin perjanian, jadi makin ruwet," jelas dia.



Dirinya menambahkan situasi di Amerika Serikat (AS) memang masih perlu diwaspadai. Apalagi pada pertengahan November mendatang akan ada Pemilu Kongres AS, sehingga ketidakpastian dari kebijakan Presiden Donald Trump masih menjadi perhatian.

Kondisi global tidak dipungkiri masih diliputi ketidakpastian akibat perang dagang antara AS dengan Tiongkok. Akibatnya gejolak di pasar keuangan membuat fluktuasi nilai tukar di hampir banyak negara temasuk Indonesia, yang mata uangnya terus mengalami tekanan hingga ke level Rp15.000-an per USD.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp15.189 per USD, dengan day range di kisaran Rp15.189 hingga Rp15.193 per USD. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.966 per USD.

 


(ABD)