Perang Dagang Dinilai Berdampak Terbatas bagi Ekonomi Tiongkok

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 07 Jul 2018 17:06 WIB
ekonomi amerikaekonomi chinationgkokas-tiongkokPerang dagang
Perang Dagang Dinilai Berdampak Terbatas bagi Ekonomi Tiongkok
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

Beijing: Ekonom bank sentral Tiongkok Ma Jun mengungkapkan perang dagang yang melibatkan USD50 miliar antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) akan memiliki dampak terbatas pada ekonomi Tiongkok. Meski demikian, ada harapan agar perang dagang ini tidak terjadi demi kepentingan bersama yang lebih luas.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 7 Juli 2018, dengan tambahan tarif 25 persen pada produk-produk Tiongkok senilai USD34 miliar yang efektif pada Jumat waktu setempat, Amerika Serikat telah memicu perang dagang terbesar dalam sejarah ekonomi, menurut Kementerian Perdagangan Tiongkok.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Ma menemukan bahwa perang perdagangan akan memperlambat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok sebesar 0,2 persen dengan pertimbangan penuh dari putaran kedua dan ketiga dari dampak penurunan ekspor pada industri terkait.

"Perang perdagangan yang melibatkan USD50 miliar telah dibahas selama lebih dari dua bulan dengan dampaknya terhadap ekonomi, industri, dan perusahaan sudah dicerna. Dan beberapa dampak bahkan telah ditafsirkan secara berlebihan," kata Ma Jun.



Ma, anggota komite kebijakan moneter dari Bank Rakyat Tiongkok, menambahkan bahwa perang perdagangan tidak akan banyak berdampak pada pasar modal dan nilai tukar. "Untuk industri yang akan mengalami dampak yang relatif lebih besar, tindakan penanggulangan yang diperlukan akan dipertimbangkan untuk menurunkan dampak," pungkas Ma.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump yang memutuskan untuk menaikkan tarif impor kepada mitra dagang dinilai memberikan ancaman besar bagi industri otomotif di AS. Tidak ditampik, kebijakan tersebut memberikan efek negatif terhadap aktivitas perekonomian AS dan diharapkan dikaji kembali demi kepentingan bersama.

Peringatan itu datang karena Presiden AS Donald Trump tetap mengancam banyak mitra dagang utama AS dengan tarif impor yang tinggi dan mitra dagang merespons dengan memberikan serangan balik. Padahal, Presiden AS Donald Trump dan CEO Global Automakers John Bozzella menekankan industri otomotif berada di tempat yang sehat saat ini.

"Tidak diragukan industri otomotif AS sedang berkembang. Kami mendekati tingkat rekor penjualan dengan produksi mobil dan ekspor mobil ke negara-negara di seluruh dunia. Jadi, kami memiliki perjalanan yang sangat bagus dan kami sangat prihatin tarif tinggi akan mengakhiri itu," pungkas Bozzela.

 


(ABD)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

1 hour Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA