Belanja Pemerintah Tiongkok Naik 11,3% di September 2016

Angga Bratadharma    •    Rabu, 19 Oct 2016 14:42 WIB
ekonomi chinationgkok
Belanja Pemerintah Tiongkok Naik 11,3% di September 2016
Aktivitas perekonomian di Tiongkok (REUTERS/Stringer)

Metrotvnews.com, New York: Departemen Keuangan Tiongkok mencatat belanja pemerintah mengalami kenaikan sebanyak 11,3 persen di September 2016 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat pendapatan mengalami kenaikan sebanyak 5,9 persen.

Baca: Yuan Diperkirakan Tidak Memasuki Jalur Depresiasi

Mengutip Reuters, Rabu 19 Oktober, pertumbuhan belanja pemerintah itu mengalami kenaikan tipis sebanyak 10,3 persen dibandingkan dengan Agustus 2016. Sedangkan tingkat pendapatan mengalami peningkatan sebanyak 1,7 persen dibandingkan dengan Agustus 2016.

Pengeluaran pemerintah dalam sembilan bulan pertama di 2016 ini mengalami lonjakan sebanyak 12,5 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan tingkat pendapatan mengalami penguatan sebanyak 5,9 persen. Pemerintah Tiongkok berharap kondisi ini bisa terus terjadi di masa mendatang.

Baca: Didorong Belanja Pemerintah, Ekonomi Tiongkok Diperkirakan Tumbuh 6,7%

Tiongkok telah mengandalkan peranan belanja pemerintah untuk menstabilkan pertumbuhan di 2016 ini di mana perusahaan swasta menarik diri. Meski demikian, ada kekhawatiran bahwa beban utang negara mengalami peningkatan.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan mantap di posisi 6,7 persen di kuartal III-2016 dengan didorong oleh belanja pemerintah dan hiruk-pikuk laju bisnis sektor perumahan. Namun, kondisi itu akan dibarengi dengan investasi swasta yang menurun, utang bergelombang, dan adanya risiko koreksi sektor properti.


Bendera Tiongkok (Reuters/Bobby Yip)

Data yang dirilis pada Rabu diharapkan bisa memberikan gambaran mengenai perekonomian Tiongkok yang secara perlahan mulai bergerak stabil tapi ketergantungan semakin besar terhadap belanja pemerintah dan pertumbuhan bisnis di sektor perumahan. Hal itu diperkirakan terjadi lantaran kinerja ekspor tetap perlu ditingkatkan lagi.

Pemimpin Tiongkok mencoba untuk memacu pertumbuhan dengan menciptakan lapangan pekerjaan, tapi juga dihadapkan pada tekanan untuk mendorong reformasi struktural yang memberi tekanan karena harus memotong kelebihan kapasitas industri. Kondisi itu akan menjadi momok dan meningkatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta gagal bayar utang.

Baca: Tiongkok Kurangi Kepemilikan Surat Utang Negara AS

Ekonom percaya risiko jangka pendek terbesar adalah kemungkinan koreksi di pasar properti yang terbilang tinggi yang menyumbang sekitar 15 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Gelombang pembatasan pembelian rumah yang dikenakan pada pembeli di kota-kota besar dalam beberapa pekan terakhir telah mengakibatkan penurunan tajam dalam penjualan.

 


(ABD)