Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

IEA: Harga Minyak Dunia Belum Ada Kejelasan

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 14 Apr 2018 20:04 WIB
minyak mentah
IEA: Harga Minyak Dunia Belum Ada Kejelasan
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

New York: Laporan bulanan terbaru dari Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebutkan harga minyak dunia telah melonjak di tengah kekhawatiran tentang pertempuran di Timur Tengah. Kendati demikian, belum jelas apakah peningkatan ketegangan akan terus mendukung reli baru-baru ini atau tidak.

"Ketidakpastian politik di Timur Tengah telah kembali ke depan. Masih harus dilihat apakah harga baru-baru ini yang tinggi bisa dipertahankan dan jika demikian apa implikasi untuk permintaan pasar dan dinamika pasokan," kata IEA, dalam laporannya yang diterbitkan Jumat waktu setempat, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 14 April 2018.

Minyak mentah berjangka melonjak ke level tertinggi yang tidak terlihat sejak Desember 2014, didukung oleh ketidakpastian geopolitik yang lebih besar di Timur Tengah dan meningkatnya kekhawatiran atas prospek tindakan militer segera dari kekuatan Barat.

Minyak mentah Brent diperdagangkan pada USD71,89 selama transaksi pagi di Jumat waktu setempat, turun sekitar 0,2 persen. Sementara WTI diperdagangkan pada USD66,96, sekitar 0,15 persen lebih rendah. Kedua tolok ukur telah memperoleh sekitar USD5 sejak awal pekan ini.



Kenaikan harga mengikuti komentar pembekuan dari Presiden AS Donald Trump terkait cuitannya mengenai rudal akan datang, sebagai tanggapan atas dugaan serangan kimia di Suriah selama akhir pekan. Tidak ditampik, keputusan untuk menunda memberikan efek terhadap gerak harga minyak dunia.

Trump sejak itu berusaha untuk memutar kembali retorika eksplosifnya, meningkatkan prospek bahwa serangan terhadap Suriah mungkin tidak akan segera terjadi seperti yang pertama kali digencarkan dan muncul pada awal pekan ini.

Meski demikian, para pemimpin dunia terus membebani aksi militer di negara yang sedang dilanda perang itu. Suriah bukan produsen minyak utama, terutama setelah lebih dari tujuh tahun perang sipil terjadi dalam skala penuh, tetapi sekutu-sekutunya seperti Rusia dan Iran di mana keduanya adalah produsen global utama.



"Jadi jelas para pedagang menjadi gugup tentang potensi gangguan pasokan dan itu membantu mendorong harga kembali di atas USD70 untuk Brent," tegas Kepala Industri Minyak dan Divisi Pasar IEA Neil Atkinson.

Prediksi IEA untuk permintaan minyak tahun ini tidak berubah pada 99,3 juta barel per hari (bpd). Sedangkan prospek kelompok untuk pasokan juga tetap sama, karena proyeksi pertumbuhan non-OPEC mencapai 1,8 juta bph pada 2018.

 


(ABD)