Data Ekonomi AS Dongkrak Kenaikan Wall Street

   •    Sabtu, 16 Sep 2017 08:33 WIB
wall street
Data Ekonomi AS Dongkrak Kenaikan Wall Street
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, New York: Saham-saham di Wall Street berakhir lebih tinggi pada perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena para investor mempertimbangkan sejumlah data ekonomi.

Mengutip Antara, Sabtu 16 September 2017, indeks Dow Jones Industrial Average berakhir naik 64,86 poin atau 0,29 persen menjadi 22.268,34 poin, mencatat rekor penutupan tertinggi.

Sementara itu, indeks S&P 500 naik 4,61 poin atau 0,18 persen menjadi 2.500,23 dan mencetak rekor tertinggi. Sedangkan indeks komposit Nasdaq naik 19,38 poin atau 0,30 persen menjadi 6.448,47.

Disesuaikan dengan variasi musiman, hari libur dan perbedaan hari perdagangan bukan perubahan harga, perkiraan awal penjualan ritel dan jasa-jasa makanan AS untuk Agustus 2017 mencapai USD474,8 miliar, atau turun 0,2 persen dari bulan sebelumnya, dan 3,2 persen di atas Agustus 2016, lapor Departemen Perdagangan AS.

Data untuk Juli yang direvisi, menunjukkan kenaikan penjualan 0,3 persen, bukan lonjakan 0,6 persen yang dilaporkan sebelumnya, menurut departemen tersebut. Indeks Harga Konsumen untuk Semua Konsumen Perkotaan naik 0,4 persen pada Agustus disesuaikan secara musiman, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis 14 September.

Selama 12 bulan terakhir, harga konsumen naik 1,9 persen. Perubahan 12 bulan dalam indeks untuk semua item dikurangi makanan dan energi tetap di 1,7 persen untuk bulan keempat berturut-turut, menurut laporan tersebut.

Wall Street telah mengawasi data inflasi karena mereka mungkin mengindikasikan langkah Federal Reserve berikutnya. Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga Fed pada Desember mencapai 50,9 persen, menurut alat FedWatch CME Group.

The Fed dijadwalkan akan mengumumkan keputusan terbarunya mengenai kebijakan moneter pada minggu depan. Sementara bank sentral diperkirakan tidak akan mengumumkan kenaikan suku bunga, diperkirakan dapat mulai melepaskan portofolio besarnya yang mencapai USD4,5 triliun.


(AHL)