Harapan Kenaikan Suku Bunga AS Buat Emas Dunia Jatuh

Angga Bratadharma    •    Jumat, 01 Jun 2018 08:01 WIB
harga emasemaskomoditasekonomi dunia
Harapan Kenaikan Suku Bunga AS Buat Emas Dunia Jatuh
Ilustrasi (SEBASTIAN DERUNGSSEBASTIAN DERUNGS/AFP)

Chicago: Emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange ditutup lebih rendah pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Kondisi itu terjadi karena dolar Amerika Serikat (USD) menguat dan investor secara luas mengharapkan Federal Reverse menaikkan suku bunga acuan.

Mengutip Xinhua, Jumat, 1 Juni 2018, kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Agustus turun USD1,8 atau 0,14 persen menjadi ditutup pada USD1.304,7 per ounce. Emas dan dolar biasanya bergerak berlawanan arah, yang berarti jika dolar naik maka emas berjangka akan turun.

Harga untuk logam safe haven awalnya berubah sedikit lebih rendah pada pagi hari ketika putaran data ekonomi dirilis tidak sedikit mengayunkan harapan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan. Sejumlah sentimen biasanya memberikan pengaruh terhadap gerak loga mulia seperti emas.

Meskipun tergelincir 0,1 persen, dolar Amerika Serikat (USD) mempertahankan tren yang kuat hampir sepanjang hari. Indeks USD, yang mengukur dolar terhadap enam saingan, naik 0,3 persen menjadi 94,14 pada 1730 GMT. Kenaikan ini biasanya memberikan efek terhadap pergerakan ekonomi.



Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli turun sebanyak 8,6 sen atau 0,52 persen menjadi menetap di USD16,458 per ounce. Platinum untuk Juli bertambah sebanyak USD1,6 atau 0,18 persen menjadi ditutup pada USD910,1 per ounce.

Di sisi lain, penurunan stok minyak mentah agak diimbangi oleh kenaikan mengejutkan pada stok bahan bakar. Stok bensin AS naik 534.000 barel, sementara stok distilasi melonjak sebesar 634.000 barel, kata EIA. Persediaan kedua produk diperkirakan turun lebih dari satu juta barel.

Sementara itu, para pedagang telah memperhatikan laporan-laporan seputar niat Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen besar lainnya di luar kartel, terutama Rusia, yang dikatakan membebani dorongan untuk menghasilkan output.

 


(ABD)