Perang Dagang AS-Tiongkok Dinilai Sulit Temukan Manfaat Positif

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 07 Jul 2018 12:01 WIB
ekonomi amerikaekonomi chinationgkokas-tiongkokPerang dagang
Perang Dagang AS-Tiongkok Dinilai Sulit Temukan Manfaat Positif
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (FOTO: AFP)

New York: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah bersumpah bahwa perang dagang itu baik dan mudah untuk dimenangkan. Namun, ancaman yang dilontarkan Washington kepada Beijing melalui pemberlakuan tarif perdagangan yang tinggi dinilai sulit untuk diidentifikasi apa manfaat positifnya.

"Dan karena Trump telah menolak aturan lama yang menyerukan sengketa perdagangan untuk ditangani oleh Organisasi Perdagangan Dunia maka ada sedikit harapan untuk penyelesaian jangka pendek," kata mantan Perunding Perdagangan AS Matthew Gold, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu,  7 Juli 2018.

"Negara-negara lain yang terlibat benar-benar tidak dapat bernegosiasi. Satu-satunya pilihan adalah membalas," tambah Matthew Gold.

Pada tengah malam waktu Washington, administrasi Trump mulai memberlakukan tarif sebanyak 25 persen pada USD34 miliar barang-barang impor Tiongkok. Sebagai tanggapannya, Tiongkok menerapkan tarif pembalasan atas beberapa impor dari AS, kata Kementerian Luar Negeri Tiongkok.



Administrasi Trump memulai perselisihan pada April silam dengan mengumumkan tarif tinggi dan menuduh Tiongkok menggunakan taktik tidak adil untuk membangun surplus perdagangan besar dengan Amerika Serikat dan mengambil alih teknologi Amerika. Gedung Putih juga menekan Kongres untuk memperketat aturan tentang investasi Tiongkok dalam teknologi AS.

"Tarif ini sangat penting untuk mencegah transfer lebih tidak adil dari teknologi Amerika dan kekayaan intelektual ke Tiongkok yang akan melindungi pekerjaan Amerika," kata Trump.



Meski terus ada desakan dari kelompok bisnis dan anggota parlemen untuk merundingkan gencatan senjata, namun ada sedikit tanda bahwa kedua belah pihak akan mencapai kompromi dalam waktu dekat. Beijing dan Washington telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan tingkat tinggi sejak awal Mei.

Akan tetapi, tetapi Pemerintahan Trump mengungkapkan pihaknya sedang mempertimbangkan untuk memperluas daftar impor Tiongkok yang ditargetkan. Trump telah mengancam tambahan 10 persen tarif pada USD200 miliar lainnya dalam barang-barang Tiongkok jika Beijing melanjutkan dengan tarif pembalasannya.



Ketika Tiongkok membalas, tarif yang lebih tinggi akan memukul ekspor Amerika dari mobil ke kedelai. Itu membawa pulang perang perdagangan ke negara-negara yang bergantung pada pertanian dan manufaktur dan banyak di antaranya mendukung Trump dalam pemilihan Presiden 2016. Petani kedelai AS mengirim sekitar 60 persen hasil panen mereka ke Tiongkok.

Para ekonom telah memperingatkan bahwa perang dagang besar-besaran terutama jika berlarut-larut selama lebih dari setahun bisa memperlambat perekonomian AS. Tentu hal ini menjadi persoalan bagi AS, mengingat sejumlah industri sudah mulai buka suara agar perang dagang tidak terjadi.

"Jika kita berpikir tentang gangguan rantai suplai, berpikir tentang efek pasar saham, tentang ketidakpastian bisnis, mengurangi kepercayaan sektor swasta, maka semua ini sudah berpengaruh pada ekonomi dan sudah membebani momentum ekonomi," kata Ekonom Capital Economics Greg Daco.

 


(ABD)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

3 hours Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA