Strategi Bank Dunia Pangkas Angka Kemiskinan

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 18 Oct 2016 10:59 WIB
kemiskinan
Strategi Bank Dunia Pangkas Angka Kemiskinan
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Rendhik)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala Ekonom Bank Dunia Vivi Alatas membagikan strategi untuk memangkas rantai kemiskinan dan kesenjangan yang terjadi di Indonesia.

Menurut Vivi, kemiskinan bertambah akibat adanya kesenjangan yang didapat mulai dari sejak masih dalam kandungan perut ibu sehingga teregenerasi. Dirinya mengilustrasikan dengan kisah Putri dan Dewi yang berasal dari keluarga yang berbeda latar belakang.

Dewi berasal dari keluarga yang masuk dalam kategori 10 terkaya. Saat di dalam kandungan, Ibunda Dewi bisa memeriksakan kandungan secara rutin ke dokter, hidup di tempat yang layak dan bersih, makan-makanan yang bergizi sehingga tumbug kembang Dewi baik. Setelah lahir dan tumbuh dewasa, Dewi pun mendapat pendidikan yang layak dan seterusnya ketika dia berkeluarga hidupnya masih terpenuhi.




Berbeda dengan Dewi, Putri berasal dari keluarga kurang mampu. Sejak di dalam kandungan, karena keterbatasan biaya, Ibunda Putri tak mampu mengontrol kandungan ke dokter. Ditambah lagi dengan tinggal di lingkungan yang sanitasinya buruk serta makanan yang dikonsumsi pun seadanya membuat tumbuh kembang Putri jauh di bawah Dewi. Bahkan setelah lahir dan tumbuh dewasa serta menikah, jika tak ada perubahan maka regenerasi yang dihasilkan akan sama.

Untuk itu, Vivi menganggap dalam memotong rantai regenerasi kemiskinan kuncinya dengan meningkatkan akses untuk kesehatan, pendidikan, teknologi informasi, dan bidang lainnya sehingga tingkat maupun angka kemiskinan serta kesenjangan di Indonesia berkurang.

"Di Indonesia gagal panen saja bisa tambah miskin, jadi rawan sekali. Untuk itu, kita, negara, harus hadir karena mempunyai peranan sangat besar," kata Vivi membagikan cerita di acara Supermentor-16 di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Senin (17/10/2016) malam.

Baca: Menteri Khofifah dan Upaya Holistik Memberantas Kemiskinan

Vivi mengatakan, kemiskinan bermula dari kurangnya pemerataan akses kesehatan di Indonesia‎. Dari datanya, hanya 35 persen anak-anak Indonesia yang mendapatkan imunisasi. Hanya 40 persen anak Indonesia yang memperoleh asi eksklusif sehingga memunculkan masalah stunting di Indonesia.

"Stunting di Indonesia lebih tinggi dibanding negara tetangga," ujar dia.

Persoalan tersebut terjadi karena beberapa faktor, diantaranya kendala informasi dan tidak tahu pentingnya hal tersebut. Menurut Vivi, stunting sangat buruk bagi kecerdasan anak, sehingga penting bagi anak-anak Indonesia mendapat asi dan imunisasi.

"Tapi banyak yang tidak tahu haknya, gunakan Kartu Indonesia Pintar, Bidik Misi, dan lainnya. Kalau mereka tahu, pasti tidak akan berpikir anak-anak untuk tamat saja sekolah dasar, itu sudah cukup," kata dia.




Masyarakat Indonesia, sambung Vivi, juga minim informasi fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sehingga dapat berwirausaha dan mengangkat seseorang dari kemiskinan. ‎Ia mencontohkan kondisi Zimbabwe, di mana faktor kesehatan berperan dalam kemiskinan melalui super konektor.

"Pengetahuan kontrasepsi sangat penting untuk menghindari AIDS. Pemerintah Zimbabwe merangkul pekerja salon sebagai super konektor, sambil motong rambut, ngomongin hal ini. Hasilnya, 4,7 juta alat kontrasepsi terjual berkat super konektor," jelasnya.

Di era teknologi canggih ini, Vivi berharap, generasi muda dapat berpartisipasi untuk menyebarkan pemahaman mengenai kesehatan, pendidikan yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Bisa lewat sosial media, dan lainnya sehingga membantu penyebaran informasi kepada keluarga miskin.

"Jeritan kemiskinan bukan diatasi dengan menunggu, tapi dengan berusaha. Jadi kunci mengubah nasib dengan bekerja, jangan hanya yang instan. Dengan mengawal kesehatan, pendidikan, penyaluran anggaran sesuai target sasaran, bekerja keras, maka kemiskinan Indonesia bisa diakhiri," tutup dia.


(AHL)