UE Sebut Desember jadi Batas Waktu untuk Brexit

Angga Bratadharma    •    Rabu, 11 Oct 2017 10:29 WIB
ekonomi eropaeropauni eropabrexitekonomi inggris
UE Sebut Desember jadi Batas Waktu untuk Brexit
Ilustrasi (AFP PHOTO/Daniel LEAL-OLIVAS)

Metrtovnews.com, Brussel: Presiden Uni Eropa (UE) Donald Tusk memperingatkan bahwa blok tersebut mungkin memikirkan kembali apakah kesepakatan Brexit dimungkinkan atau keputusan Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Hal itu dengan catatan jika tidak ada kemajuan menuju perundingan perdagangan pada Desember seperti yang diharapkan.

Dengan kedua belah pihak saling bertukar barang tentang siapa yang harus dipersalahkan mengenai lambannya negosiasi, kepala perunding Uni Eropa Michel Barnier secara terpisah mengingatkan London bahwa Brexit bukan permainan.

Tusk yang juga mantan Perdana Menteri Polandia sepertinya melihat London berharap para pemimpin Uni Eropa akan menggunakan sebuah KTT pada 19 Oktober untuk menyetujui guna melanjutkan pembicaraan perceraian ke tahap negosiasi berikutnya, yang berkaitan dengan hubungan masa depan.

Dia menegaskan Brussels masih bekerja untuk sebuah kesepakatan, meskipun Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pemerintahnya sedang membuat persiapan jika tidak ada kesepakatan ketika Inggris meninggalkan Uni Eropa pada Maret 2019.

"Kami mendengar dari London bahwa pemerintah Inggris sedang mempersiapkan skenario tidak ada kesepakatan. Saya ingin mengatakan dengan sangat jelas bahwa UE tidak melakukan skenario seperti itu," kata Tusk, kepada Komite Uni Eropa di Wilayah Brussel, seperti dikutip dari AFP, Rabu 11 Oktober 2017.

"Kami bernegosiasi dengan itikad baik, dan kami masih berharap bahwa apa yang disebut kemajuan yang cukup akan dimungkinkan pada Desember. Namun, jika ternyata perundingan terus berlanjut dengan lamban, dan kemajuan yang cukup belum tercapai maka bersama dengan teman-teman kita di Inggris kita harus memikirkan ke mana kita menuju," tambahnya.

May mengatakan kepada UE bahwa bola tersebut ada di pengadilan mereka setelah dia meluncurkan sejumlah kompromi Brexit dalam sebuah pidato di Florence pada September, dan meminta masa transisi dua tahun.

Inggris juga menggariskan proposal untuk undang-undang baru guna menetapkan tarif dan kuota termasuk jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan, karena mempersiapkan sistem bea cukai usai Brexit.

Inggris dan Uni Eropa minggu ini mengadakan putaran kelima perundingan perceraian Brexit, yang terakhir sebelum KTT Uni Eropa minggu depan untuk memutuskan apakah ada kemajuan yang cukup dalam perundingan.


(ABD)