Politisi Dituntut Berkontribusi Lebih dalam G20

Desi Angriani    •    Senin, 05 Sep 2016 14:43 WIB
ktt g-20
Politisi Dituntut Berkontribusi Lebih dalam G20
Suasana KTT G20 di Tiongkok. AFP PHOTO / POOL / HOW HWEE YOUNG.

Metrotvnews.com, Tiongkok: Para politisi dari negara maju dituntut berkontribusi lebih dalam forum KTT G20. Dalam ajang ini, para pemimpin ini akan memberikan arahan serta pandangan yang dapat memperbaiki kehidupan rakyat yang merasa bahwa era globalisasi tak sanggup menciptakan kesejahteraan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa ini akan menjadi isu penting karena hampir semua negara para pemimpin dunia seperti Perancis, Jerman dan Amerika Serikat (AS) akan menghadapi pemilu. Mereka harus menciptakan kebijakan yang reasonable bagi rakyatnya.

"Kalau negara yang besar itu pun mereka merasakan rakyatnya sangat tidak puas dengan globalisasi yang dianggap tidak inclusive dan tidak bisa menciptakan kesejahteraan terutama pada kelompok pekerja dan kelompok masyarakat terbawah," kata Sri di Hangzhou, Tiongkok, Senin (5/9/2016).

Ini adalah tantangan bagi para pimpinan politik. Oleh karena itu pemikirannya adalah bagaimana menciptakan suatu dorongan ekonomi melalui inovasi dan menciptakan kebijakan fiskal maupun struktural yang mampu menyentuh pada kelompok masyarakat bawah.


kelompok G20


Dia mengatakan semenjak  krisis ekonomi global 2009, kelompok G20 dituntut untuk menciptakan suatu perekonomian global yang sehat, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan juga mampu menciptakan inovasi-inovasi.

Karena keprihatinan bersama di dalam level pimpinan negara, hal ini juga dibahas sangat detail di level menkeu juga gubernur bank sentral karena perekonomian dunia selama enam tahun terakhir bukannya mengalami revisi ke atas tapi selalu direvisi ke bawah.

"Berarti mereka gagal mencapai deklarasi bersama untuk menciptakan pertumb ekonomi yang lebih tinggi, lebih berkualitas dan lebih inclusive," tegas dia.

Dia mengatakan pertemuan resmi pada bagian pertama akan fokus pada hal-hal yang masih perlu dilakukan. Baik dari sisi Instrumen apakah dari sisi makro, yaitu moneter fiskal, maupun dari sisi struktual yaitu melakukan reformasi untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan.

"Hampir semua pimpinan negara merasa concern bahwa pertemuan ini harus kredibel. Harus bisa menyampaikan hal-hal yang bisa menciptakan kepercayaan dari masyarakatnya, maupun dunia. Dan juga bisa memberikan suatu harapan bahwa komitmen terhadap globalisasi itu tidak hanya merupakan retorika politik tapi merupakan suatu kebijakan yang bisa menyejahterakan rakyat masing-masing," jelas dia.


(SAW)