FTAAP Suntik Energi Baru ke Integrasi Ekonomi Regional

Angga Bratadharma    •    Jumat, 10 Nov 2017 14:03 WIB
ekonomi dunia
FTAAP Suntik Energi Baru ke Integrasi Ekonomi Regional
Pertemuan Tingkat Menteri APEC yang diadakan di Da Nang, Vietnam (Xinhua/Li Peng)

Vietnam: Kawasan Perdagangan Bebas Asia Pasifik atau Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP) kembali mendapat sorotan lagi minggu ini. Hal itu karena delegasi dari 21 negara Asia-Pasifik Economic Cooperation (APEC) berkumpul di Kota Da Nang Vietnam untuk pertemuan para pemimpin ekonomi tahunan.

Visi untuk membangun FTAAP, yang diusulkan pada pertemuan APEC di Hanoi, Vietnam pada 2006, diterjemahkan ke dalam kenyataan pada pertemuan APEC 2014 di Beijing dengan pengesahan sebuah peta jalan. Sebuah studi strategis kolektif dilakukan kemudian dan hasilnya disetujui pada pertemuan APEC di Lima pada 2016.

Mengutip Xinhua, Jumat 10 November 2017, Anggota APEC diharapkan membahas lebih lanjut isu-isu yang berkaitan dengan kesepakatan perdagangan yang diusulkan pada pertemuan tahunan di tahun ini. Sebuah laporan dari Pacific Economic Cooperation Council (PECC) memperkirakan FTAAP, ketika diwujudkan, akan menambahkan USD2,4 triliun ke ekonomi global.

Seruan untuk mempercepat proses FTAAP terjadi di tengah pemulihan ekonomi dunia yang lamban dan rentan, dengan kawasan Asia Pasifik menjadi pusat kekuatan bagi pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan global pada 2017 akan meningkat menjadi 2,7 persen.

Sementara Asia Timur dan Pasifik, dan Asia Selatan memimpin masing-masing dengan 6,2 persen dan 6,8 persen dari proyeksi pertumbuhan masing-masing. Namun, proteksionisme dan ketidakpastian kebijakan masih menghantui pemulihan ekonomi global.

"Proteksionisme tentu saja mempengaruhi perdagangan bebas," kata Ketua Umum PECC Tang Guoqiang, di sela-sela pertemuan APEC. Dia mencatat bahwa pertumbuhan perdagangan global telah lebih lambat dari pertumbuhan PDB global dalam satu tahun terakhir, sebuah fenomena yang mengkhawatirkan beberapa ekonom.

Tahun lalu telah terlihat beberapa insiden yang memicu kekhawatiran global akan proteksionisme, termasuk penarikan Amerika Serikat dari Kemitraan Trans-Pacific (TPP) dan mekanisme multilateral lainnya. Tren de-globalisasi juga muncul di negara-negara industri lainnya.


(ABD)