Morgan Stanley Sebut USD Memasuki Sekular Bear Market

Angga Bratadharma    •    Selasa, 15 May 2018 14:03 WIB
dolar asMorgan Stanley
Morgan Stanley Sebut USD Memasuki Sekular <i>Bear Market</i>
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Jakarta: USD telah memasuki sekular bear market atau cenderung menunjukkan tren menurun yang kemungkinan bertahan cukup lama. Bahkan, kecil kemungkinan naik secara konsisten kedepannya terutama karena defisit kembar yakni defisit anggaran dan defisit perdagangan mendongkrak biaya pinjaman sehingga mengecilkan kemungkinan investasi swasta.

Strategist Morgan Stanley Hans W Redeker mengatakan kenaikan defisit kembar AS pada awalnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi AS dan memungkinkan AS untuk mendanai defisit melalui pengembalian yang lebih tinggi pada aset dalam denominasi USD, seperti yang telah dilihat dalam reli USD sejak Februari.

"Namun, hal itu menghalangi pengambilan produktivitas yang signifikan (dan tidak mungkin). Meski reli USD yang persisten tidak mungkin karena defisit kembar membanjiri investasi swasta dengan menaikkan biaya pinjaman," ujarnya, seperti dikutip dari riset Morgan Stanley, yang diterima di Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018.



Pengetatan likuiditas global dan meningkatnya permintaan modal eksternal menunjukkan modal yang tersedia akan semakin langka. AS harus memberi insentif aliran masuk asing baik melalui tingkat yang lebih tinggi sambil mencoba untuk menghindari efek merusak pada pertumbuhan, maupun melalui pelemahan USD.

Baca: Emas Dunia Tertekan Usai USD Menguat

"Kami berharap yang terakhir akan menjadi pilihan yang disukai yakni membawa neraca pembayaran ke keseimbangan," ungkapnya.

Defisit kembar AS yang semakin melebar membutuhkan pembiayaan dari luar negeri. Jepang -yang memiliki usia median tertinggi di G10- mungkin harus mengurangi tabungan bersihnya untuk membiayai pensiun warganya. Sementara itu, tren ekspansi neraca bank sentral global mulai berbalik arah dan memperketat kondisi likuiditas serta membebani valuasi aset.

Baca: Teror Bom, OJK Imbau Investor di Daerah Tidak Panik

"Kami pikir USDJPY harus turun ke-93 pada akhir 2019. AUD, NZD, CAD, CHF, dan SEK memiliki potensi downside karena leverage lokal yang tinggi dan meningkatnya biaya pendanaan global," tuturnya.


Dolar Amerika Serikat (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Sementara itu, neraca keuangan di Emerging Market (EM) terbilang relatif kuat ditambah dengan imbal hasil riil yang tinggi. Hal itu harus menstabilkan prospek EM dengan penurunan USD guna membantu daya tariknya. Morgan Stanley memperkirakan perlambatan pertumbuhan AS di 2019 dan terdapat momentum pertumbuhan EM yang kuat.

Baca: Kemenkeu Pastikan Penyaluran THR ke PNS

Adapun USD memasuki tren turun jangka panjang di awal 2017. Kelemahan USD ditanggung oleh banyak faktor yakni meningkatnya defisit kembar AS; aset berdenominasi USD yang sangat dihargai, struktur kreditur yang semakin bergeser dalam paparan risiko dan dari investor resmi hingga swasta; hingga deregulasi bank AS meningkatkan pasokan modal.

Lebih lanjut, ia menambahkan, pentingnya arus liabilitas tidak boleh diabaikan. Pertumbuhan global yang kuat dan meningkatnya belanja modal di lingkungan yang mengikis kapasitas cadangan berarti bahwa biaya modal lokal meningkat, yang menyebabkan meningkatnya permintaan untuk meminjam di pasar USD untuk berinvestasi secara lokal.

Baca: Perdagangan Saham Royal Prima Naik 47% Usai IPO

"Mengetuk pasar modal dan USD serta mengonversi dana ke dalam mata uang lokal telah mendorong imbal hasil surat utang AS lebih tinggi, sementara juga mendorong USD lebih rendah," pungkasnya.

 


(ABD)


BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

1 day Ago

Menteri BUMN Rini M Soemarno menyatakan perusahaan milik negara di Indonesia siap bersinergi me…

BERITA LAINNYA