Upaya Beijing Antisipasi Perlambatan Ekonomi Dinilai Tidak Efektif

   •    Selasa, 05 Feb 2019 15:03 WIB
ekonomi chinationgkok
Upaya Beijing Antisipasi Perlambatan Ekonomi Dinilai Tidak Efektif
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

New York: Kepala Strategi Investasi JP Morgan Private Bank untuk Asia Alex Wolf mengatakan upaya Pemerintah Tiongkok untuk menghidupkan kembali ekonomi mereka yang tengah melambat tidak efektif. Bahkan, perlu ada upaya lebih banyak bagi Pemerintah Tiongkok guna menyelesaikan persoalan perlambatan tersebut.

"Saya masih berpikir mereka perlu melakukan lebih banyak. Saya belum berpikir mereka sudah melakukan cukup. Sejauh ini langkah-langkah yang mereka ambil sudah adil tapi tidak efektif karena mereka belum benar-benar menghasilkan rebound dalam pertumbuhan ekonomi," kata Wolf, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 5 Februari 2019.

"Dan mereka juga belum benar-benar menghasilkan rebound dalam kepercayaan," tambahb Alex Wolf.

Dalam beberapa tahun terakhir, Wolf mengatakan, Tiongkok telah terlibat dalam stimulus ekstensif untuk menjaga ekonominya tetap berputar. Tetapi sekarang, lanjut Wolf, tingkat utang yang tinggi dan perubahan dalam lanskap politik menekan Beijing untuk mengambil langkah-langkah yang lebih kecil.

Bank-bank Tiongkok memperpanjang rekor pinjaman sebesar 12,65 triliun yuan (USD1,88 triliun) di 2016 karena pemerintah mendorong stimulus yang didorong oleh kredit untuk memenuhi target pertumbuhan ekonominya. Ledakan kredit memicu kekhawatiran tentang risiko keuangan dari penumpukan utang yang cepat, yang telah dijanjikan pihak berwenang untuk dikurung.

"Saya juga berpikir kemauan politik telah berubah dengan pemerintah saat ini di mana mereka tidak memiliki reaksi kebijakan yang sama seperti yang saya kira, yang mereka miliki di masa lalu," kata Wolf.

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu tercatat tumbuh 6,6 persen secara tahun ke tahun di 2018, di atas target resmi sekitar 6,5 persen. Tetapi lebih rendah dari pertumbuhan 6,8 persen yang tercatat di 2017. Pertumbuhan pada kuartal keempat di 2018 mencapai level 6,4 persen atau turun dibandingkan dengan kuartal III-2018 yang mencapai 6,5 persen.

Lebih lanjut, Wolf mengatakan, perlu ada katalis untuk mendorong pasar Tiongkok tumbuh lebih tinggi mengingat pertumbuhan negara yang terus menurun, inflasi yang melambat, dan laba yang lemah -terutama di sektor industri.

"Kami harus melihat beberapa katalis, terutama dari resolusi pada pembicaraan perdagangan atau dari Beijing dalam hal respons stimulus kebijakan yang jelas yang akan meningkatkan tingkat kepercayaan termasuk di kalangan investor domestik," pungkas Wolf.


(ABD)