UNCTAD: Kenaikan Tarif AS-Tiongkok Picu Kemorosotan Ekonomi

   •    Rabu, 06 Feb 2019 15:03 WIB
ekonomi amerikaekonomi chinationgkokas-tiongkokPerang dagang
UNCTAD: Kenaikan Tarif AS-Tiongkok Picu Kemorosotan Ekonomi
Ilustrasi (AFP/Johannes EISELE)

Jenewa: Studi oleh Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB, UNCTAD, mengatakan sebuah rencana Amerika Serikat (AS) untuk menaikkan tarif pada Tiongkok bulan depan dapat memicu kemerosotan ekonomi dan membiarkan negara-negara lain mengambil alih sekitar USD200 miliar ekspor Tiongkok.

Amerika Serikat menerapkan bea tambahan antara 10 persen hingga 25 persen atas barang-barang Tiongkok senilai USD250 miliar tahun lalu sebagai hukuman atas apa yang disebut AS praktik perdagangan tidak adil, dan tarif 10 persen akan naik menjadi 25 persen kecuali ada kemajuan signifikan kesepakatan dagang sebelum 1 Maret.

"Implikasinya akan sangat besar. Implikasinya bagi seluruh sistem perdagangan internasional akan sangat negatif," kata Kepala Perdagangan Internasional UNCTAD Pamela Coke-Hamilton, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 6 Februari 2019.

Dia mengatakan kenaikan tarif AS dan langkah pembalasan oleh Tiongkok akan memicu penurunan ekonomi karena ketidakstabilan di pasar komoditas dan keuangan, sementara langkah-langkah perusahaan untuk beradaptasi akan memberikan tekanan pada pertumbuhan global.

"Akan ada perang mata uang dan devaluasi, stagflasi yang mengarah pada kehilangan pekerjaan dan pengangguran yang lebih tinggi dan yang lebih penting, kemungkinan efek penularan, atau apa yang kita sebut efek reaksioner, yang mengarah ke riam langkah-langkah distorsi perdagangan lainnya," ujarnya.

"Negara-negara yang lebih kecil dan lebih miskin akan kesulitan untuk mengatasi guncangan eksternal seperti itu," tambahnya.

Biaya yang lebih tinggi dari perdagangan AS-Tiongkok akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk beralih dari rantai pasokan Asia Timur saat ini, tetapi dampak tarif tidak terutama akan menguntungkan perusahaan-perusahaan AS.

Perusahaan-perusahaan AS akan menangkap hanya 6,0 persen dari USD250 miliar ekspor Tiongkok yang terpengaruh, sementara perusahaan-perusahaan Tiongkok akan mempertahankan 12 persen, meskipun biaya perdagangan lebih tinggi, kata studi tersebut.


(ABD)