Harga Minyak Dunia Kokoh Usai Laporan OPEC

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 14 Apr 2018 08:03 WIB
minyak mentahopec
Harga Minyak Dunia Kokoh Usai Laporan OPEC
Ilustrasi (FOTO: Cityam)

New York: Harga minyak dunia terus meningkat pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) karena laporan terbaru Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menunjukkan peningkatan permintaan global yang terus menerus. Harga minyak dunia juga mendapatkan dorongan di tengah ketegangan geopolitik.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 14 April 2018, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei menambahkan USD0,32 untuk menetap di USD67,39 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik USD0,56 menjadi ditutup pada USD72,58 per barel di London ICE Futures Exchange.

Dalam laporannya, OPEC menaikkan perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak global di tahun ini sebesar 30.000 barel per hari (bpd) menjadi 1,63 juta bpd. Selain itu, kelompok itu mengatakan output kolektifnya turun 201.000 bpd menjadi 31,96 juta bpd pada Maret dari Februari, didorong penurunan di negara-negara seperti Venezuela, Arab Saudi dan Libya.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan bahwa kekenyangan minyak global telah secara efektif menyusut sembilan per sepuluh sejak awal 2017, menurut Reuters. Untuk minggu ini, harga minyak mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Juli di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.



Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 122,91 poin atau 0,50 persen menjadi 24.360,14. Sedangkan S&P 500 terhapus 7,69 poin atau 0,29 persen menjadi 2.656,30. Indeks Nasdaq Composite turun 33,60 poin atau 0,47 persen menjadi 7.106,65.

JP Morgan Chase melaporkan laba per saham USD2,37, lebih tinggi dari perkiraan analis USD2,28. Citigroup melaporkan laba per saham USD1,68 dan pendapatan kuartal pertamanya mencapai USD18,9 miliar. Wells Fargo melaporkan laba dilusian per saham USD1,12 dan pendapatan USD21,9 miliar.

Ekspektasi untuk musim penghasilan ini tinggi. Penghasilan kuartal pertama diperkirakan akan meningkat 18,6 persen dari kuartal pertama tahun lalu. Tidak termasuk sektor energi, pertumbuhan laba diperkirakan mencapai 16,9 persen, menurut Thomson Reuters.

 


(ABD)