Kenakan Tarif Tinggi ke Tiongkok

Ekonom AS Sebut Sulit Menyelesaikan Defisit dalam Semalam

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 14 Apr 2018 15:02 WIB
ekonomi amerika
Ekonom AS Sebut Sulit Menyelesaikan Defisit dalam Semalam
Ilustrasi (FOTO: AFP)

New York: Ekonom Amerika dan Pemenang Nobel Joseph Stiglitz mengungkapkan langkah pelarangan sepihak Amerika Serikat (AS) terkait pengenaan tarif yang tinggi terhadap barang-barang Tiongkok merongrong rezim perdagangan multilateral berbasis aturan yang sangat penting bagi pertumbuhan global. Ada harapan langkah itu tidak diberlakukan oleh AS.

"Pendekatan yang diambil oleh Presiden AS Donald Trump untuk menangani sengketa perdagangan dengan Tiongkok adalah primitif," kata Stiglitz, dalam sebuah diskusi panel, di Havard Club, di New York City, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 14 April 2018.

Setelah mengusulkan tarif yang tinggi atas impor Tiongkok senilai USD50 miliar, administrasi Trump mengancam akan menampar bea tambahan atas barang-barang Tiongkok senilai USD100 miliar. Sedangkan Tiongkok telah membalas secara proporsional dengan meluncurkan rencana tarif pembalasannya.

"Anda tidak dapat memecahkan defisit perdagangan dalam semalam. Sebenarnya itu bodoh untuk melakukannya," tegas Stiglitz.



Tindakan sepihak AS, yang memulai perang perdagangan, dan akhirnya merugikan konsumen Amerika karena tarif tercermin dalam harga. Dan itu menjadi ancaman bagi cara sistem perdagangan global beroperasi karena sengketa perdagangan selalu dilakukan dalam kerangka Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan dalam aturan hukum internasional.

Ia menyatakan keprihatinannya atas langkah Trump yang menuduh WTO bias terhadap AS dan telah memblokir penunjukan hakim baru di panel beranggotakan tujuh anggota organisasi yang mengabaikan perselisihan internasional. Panel saat ini hanya memiliki empat anggota.

"WTO secara tradisional menunjuk hakim baru berdasarkan suara bulat," kata Stiglitz, yang saat ini menjadi Profesor di Universitas Columbia.

AS belum mengajukan keluhan terhadap Tiongkok kepada WTO, meskipun Trump dan anggota kabinetnya telah menyebut Beijing melakukan pelanggaran terhadap aturan WTO karena Beijing memanfaatkan pengobatan khusus yang diterima negara berkembang terbesar ketika ia mengaksesi blok internasional.

 


(ABD)