Malaysia Masih Terkungkung Ketidakstabilan Persediaan dan Ekspor CPO

   •    Kamis, 06 Sep 2018 17:14 WIB
cpo
Malaysia Masih Terkungkung Ketidakstabilan Persediaan dan Ekspor CPO
Ilustrasi. (FOTO: MI/Abdullah)

Jakarta: Harga crude palm oil (CPO) berjangka pada hari ini kembali melemah hingga ke level rendah sebesar 2.223 ringgit Malaysia berdasarkan Trading View. Sentimennya masih pada melonjaknya produksi CPO khususnya di Malaysia di mana hingga akhir Agustus pertumbuhan output sudah melampaui proyeksi ekspor.

"Produksi CPO Malaysia meningkat 9,9 persen menjadi 1,65 juta ton dari Juli hingga Agustus. Angka tersebut merupakan level tertinggi sepanjang 2018. Target survei ekspor Malaysia untuk bulan Agustus untuk 1,23 juta ton pun belum dapat terpenuhi. Bahkan bisa dikatakan masih cukup jauh dari target," ujar Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi dalam hasil risetnya, Kamis, 6 September 2018.

Menurut dia, untuk bisa segera menopang nilai ekspor, pihak otoritas Malaysia kembali mengambil kebijakan nol persen tarif ekspor untuk minyak sawit mentah. Kebijakan tersebut akan dijalankan selama September.

Meski demikian, masih adanya proyeksi bahwa harga CPO belum mampu menguat karena produksi masih diperkirakan akan terus meningkat selama beberapa bulan mendatang seiring dengan tren musiman.

Dari Indonesia sendiri, pemerintah masih akan menjalani kebijakan seperti B20 dan upaya peningkatan ekspor di tengah melemahnya rupiah saat ini. Meski kebijakan ekspor minyak sawit masih diberlakukan, namun beberapa analis menyarankan untuk memaksimalkan ekspor minyak sebagai komoditi utama Indonesia ini. Selain dapat menopang harga CPO, rupiah pun bisa tergenjot untuk stabil.

"Melihat masih adanya outlook melonjaknya persediaan, tampaknya harga CPO masih dalam tekanan untuk turun dengan support di level 2.200 ringgit Malaysia dan resisten di level 2.250 ringgit Malaysia," tuturnya.


(AHL)