Potensi Kenaikan Ekspor CPO di Tengah Perang Dagang AS-Tiongkok

   •    Senin, 09 Jul 2018 13:08 WIB
cpoPerang dagang
Potensi Kenaikan Ekspor CPO di Tengah Perang Dagang AS-Tiongkok
Ilustrasi. (Foto: Antara/Wahyu Putro).

Jakarta: Komoditas crude palm oil (CPO) pada perdagangan Jumat ditutup di harga 2.264 ringgit Malaysia, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (low) di 2.264 ringgit Malaysia serta harga tinggi (high) di 2.297 ringgit Malaysia.

CPO berjangka Malaysia jatuh ke titik terendah dalam kurun waktu dua minggu perdagangan Jumat, yang merupakan keempat kalinya terjadi penurunan harga selama sepekan.

Harga acuan CPO kontrak untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,9 persen pada harga 2.264 ringgit Malaysia atau setara dengan USD560,67 per metrik ton pada penutupan perdagangan yang sekaligus sebagai harga terendah terhitung sejak 25 Juni 2018.

"CPO tergelincir sebanyak 2,7 persen untuk minggu ini karena terjadinya penurunan atau minimnya jumlah permintaan, sehingga membebani harga komoditas tersebut," ujar Analis Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam analisanya, Senin, 9 Juli 2018.

Selain itu, lanjut dia, terdapat juga faktor kehati-hatian pelaku pasar atas dimulainya perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Tarif Amerika Serikat senilai USD34 miliar impor Tiongkok berlaku sebagai tenggat waktu yang disahkan pada Jumat dan di saat yang sama pihak Tiongkok akan segera melakukan hal yang sama. Kedua negara dengan latar ekonomi terbesar dunia itu mengambil langkah berisiko tinggi menuju perang dagang.

Perdagangan Senin, 9 Juli 2018, saat tulisan ini disusun, pergerakan harga CPO sedang berada pada level 2.276 ringgit Malaysia. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada harga 2.281 ringgit Malaysia, sementara harga tinggi tercatat berada di 2.288 ringgit Malaysia, dan harga rendah di 2.272 ringgit Malaysia.

Produksi CPO Malaysia diperkirakan akan berpotensi meningkat pada Juli ini setelah sempat terjadi penurunan pada Juni. Pelaku pasar bereaksi terhadap perkiraan kenaikan produksi pada bulan Juli tersebut, di mana data resmi oleh Dewan Minyak Sawit Malaysia akan dirilis pada 10 Juli 2018.

Pada hari perdagangan Selasa besok juga dijadwalkan akan dirilis data ekspor CPO Malaysia periode 1-10 Juli 2018 oleh perusahaan inspeksi AmSpec, Surveyor kargo Societe Generale de Surveillance atau SGS, serta ITS Malaysia. Rilis data ekspor tersebut berpotensi mempengaruhi laju komoditas CPO Malaysia.

Pada perdagangan hari ini potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran:
- 2.338 ringgit Malaysia (resistance 3).
- 2.308 ringgit Malaysia (resistance 2).
- 2.293 ringgit Malaysia (resistance 1).

Sementara terdapat juga potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran harga:
- 2.264 ringgit Malaysia (support 1).
- 2.247 ringgit Malaysia (support 2).
- 2.232 ringgit Malaysia (support 3).


(AHL)