Harga Minyak Merosot Usai Kekhawatiran Perlambatan Kembali Merebak

   •    Rabu, 06 Feb 2019 08:04 WIB
minyak mentah
Harga Minyak Merosot Usai Kekhawatiran Perlambatan Kembali Merebak
Ilustrasi (AFP PHOTO/AMER HILABI)

New York: Harga minyak dunia merosot pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), mundur kembali dari tertinggi dua bulan. Kondisi itu terjadi setelah data pesanan pabrik Amerika Serikat yang lemah menghidupkan kembali kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Mengutip Antara, Rabu, 6 Februari 2019, minyak mentah berjangka Brent turun USD0,20 menjadi menetap di USD62,32 per barel. Brent menyentuh tertingginya dalam lebih dari dua bulan di USD63,63 pada hari sebelumnya. Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) melemah USD0,90 menjadi ditutup pada USD53,66 per barel.

Namun demikian, sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap minyak Venezuela dan pemotongan pasokan minyak mentah yang dipimpin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) membatasi penurunan lebih lanjut harga minyak.

"Saya pikir pasar minyak sedang mencoba untuk memutuskan apakah pesanan pabrik akan membebani harga atau Venezuela, dan sanksi-sanksi minyak akan mendukung harga. Akibatnya, kami melihat pasar berfluktuasi," kata Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow di Houston.

Minyak, Ahli Strategi Komoditas Senior di RJO Futures Phillip Streible mengatakan, juga sedikit kurang diminati karena para investor merealokasi aset-aset mereka. "Mereka semua melompat ke pasar ekuitas dan keluar dari beberapa pasar lain yang mungkin terbebani oleh hubungan perdagangan AS-TIongkok atau pasar yang dipengaruhi oleh indeks USD," katanya.

Namun, para analis mengatakan sanksi-sanksi AS terhadap Venezuela memusatkan perhatian pasar pada pasokan global yang lebih ketat. Sejumlah tanker saat ini berada di perairan lepas pantai Venezuela, tidak dapat bergerak karena perusahaan minyak milik negara PVDSA menuntut pembayaran, yang akan dikenai sanksi-sanksi AS.

Persediaan minyak mentah berat yang diproduksi di Venezuela langka, karena penyedia lain seperti Meksiko dan Kanada juga menghadapi tantangan produksi dan ekspor. OPEC dan sekutu-sekutunya, termasuk Rusia, sepakat untuk mengurangi produksi mulai bulan lalu guna mengatasi peningkatan pasokan.

Sebuah survei menemukan bahwa pasokan dari negara-negara OPEC telah jatuh paling besar dalam dua tahun terakhir, dengan Arab Saudi dan sekutunya di Teluk Arab memberikan lebih banyak pada pemotongan yang dijanjikan, sementara Iran, Libya dan Venezuela mencatat penurunan yang tidak disengaja.


(ABD)