Prediksi Turunnya Produksi Malaysia akan Topang Kenaikan CPO

   •    Jumat, 09 Feb 2018 12:38 WIB
cpo
Prediksi Turunnya Produksi Malaysia akan Topang Kenaikan CPO
Ilsutrasi petani sawit. (FOTO: ANTARA/Nova Wahyudi)

Jakarta: Penguatan harga minyak sawit (CPO) masih mungkin berlanjut pada perdagangan Jumat.

"Sentimen datang dari potensi turunnya produksi serta adanya dukungan tambahan dari salah satu negara di Uni Eropa untuk menentang pelarangan penggunaan minyak sawit," tutur analis Monex Investindo Futures Faisyal, dalam hasil risetnya, Jumat, 9 Februari 2018.

Berdasarkan survei, produksi minyak sawit Malaysia untuk sebulan penuh di Januari diperkirakan akan turun sebesar 14,9 persen menjadi 1,56 juta ton, jika terjadi itu akan menjadi level terendah dalam tujuh bulan dan akan menjadi penurunan bulanan terbesar dalam dua tahun terakhir. 

Belanda saat ini telah bergabung dengan beberapa negara di Uni Eropa yang menentang usulan pelarangan minyak sawit oleh Parlemen Eropa.

Baca: RI Sampaikan Kekecewaan soal Minyak Sawit kepada Italia

Menteri Kerjasama Perdagangan dan Pengembangan Belanda Sigrid Kaag mengatakan negaranya tidak mendukung tindakan diskriminatif atau difrensiasi antar produk dan meminta untuk diadakannya dialog mengenai masalah minyak sawit.

"Sejauh ini, Prancis, Swedia, dan Inggris mengatakan untuk menentang resolusi tersebut," tambah dia.

Sebelumnya resolusi Parlemen Eropa pada 17 Januari menyerukan untuk tidak menggunakan minyak sawit dari program biofuel Uni Eropa pada 2020 karena menyebabkan perusakan hutan. 

Potensi pergerakan harga minyak sawit pada hari ini terlihat dalam rentang 2.450-2.550 ringgit per ton. Untuk sisi atasnya, sebelum membidik area 2.550, harga harus menembus ke atas level 2.520 terlebih dahulu.

"Sementara itu untuk sisi bawahnya sebelum menargetkan support di 2.450, harga harus melewati level 2.480 terlebih dahulu," pungkasnya.

 


(AHL)