IMF Desak Akhiri Perang Dagang

   •    Rabu, 03 Oct 2018 12:28 WIB
imfPerang dagang
IMF Desak Akhiri Perang Dagang
Ilustrasi IMF. (FOTO: AFP)

Washington: Perang dagang berdampak buruk bagi perkembangan ekonomi dunia. Oleh karena itu, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk mengurangi ketegangan dan menyelesaikan sengketa perdagangan saat ini.

Menurut Lagarde, perang dagang menyebabkan prospek pertumbuhan ekonomi global meredup.

"Pada Juli, kami memproyeksikan pertumbuhan global 3,9 persen untuk 2018 dan 2019. Prospeknya sejak itu menjadi kurang cerah ketika Anda akan melihat dari perkiraan terbaru kami minggu depan," kata Lagarde dalam pidato di Washington, Amerika Serikat, Senin, waktu setempat, menjelang pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali, Indonesia, pekan depan.

"Masalah utamanya ialah retorika itu berubah menjadi realitas baru hambatan perdagangan yang sebenarnya. Ini tidak hanya merugikan perdagangan itu sendiri, tetapi juga investasi dan manufaktur karena ketidakpastian terus meningkat," katanya.

Seperti diketahui, dua negara raksasa ekonomi dunia, Tiongkok dan AS, kini tengah berseteru di bidang perdagangan. AS yang beralasan ingin melindungi industri dalam negeri mereka menerapkan tarif tinggi pada produk-produk Tiongkok. Kebijakan itu dibalas Tiongkok.

Lagarde memperingatkan bahwa sengketa perdagangan saat ini dapat menyebabkan guncangan ke berbagai negara berkembang dan ekonomi yang lebih luas jika eskalasinya terus meningkat. "Pesan utama saya hari ini ialah bahwa kita perlu mengelola risiko-risiko, meningkatkan reformasi, dan memodernisasi sistem multilateral."

Ia pun mendesak negara-negara untuk bekerja sama membangun sistem perdagangan global yang lebih kuat, adil, dan sesuai untuk masa depan. "Taruhannya tinggi karena rekah rantai nilai global bisa memiliki efek yang merusak di banyak negara, termasuk ekonomi negara-negara maju."

Dampak ke Rupiah

Perang dagang AS-Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir berdampak pada melemahnya nilai tukar sejumlah mata uang di Asia. Kemarin, rupiah bahkan menembus angka Rp15 ribu per USD. Menurut ekonom PT Bank Permata Tbk Joshua Pardede, melemahnya rupiah diduga karena memanasnya perang dagang AS dan Tiongkok serta kenaikan harga minyak dunia.

Dua faktor itu dikhawatirkan mengancam defisit transaksi berjalan domestik. Joshua mengatakan dolar AS pada Selasa ini menguat secara luas, yang diikuti dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US-Treasury bill).

Isu perang dagang kembali mengimpit Tiongkok dengan adanya perjanjian perdagangan antara Kanada dan Meksiko yang mengisyaratkan pembatasan barang-barang dari Tiongkok. "Akhirnya penguatan dolar AS terjadi diikuti kenaikan yield US-Treasury," ujar Joshua.

Dengan berbagai sentimen global itu, pelaku pasar cenderung melakukan koreksi di pasar keuangan domestik. Research Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah melihat sumber tekanan pada rupiah masih sama, yakni ketidakpastian global akibat perang dagang. Hal itu diperburuk kondisi domestik Indonesia yang masih defisit transaksi berjalan. (Media Indonesia)

 


(AHL)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA