Brexit dan Proteksionisme

IMF Turunkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Jerman

Angga Bratadharma    •    Jumat, 06 Jul 2018 12:02 WIB
imf
IMF Turunkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Jerman
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Berlin: Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Jerman pada 2018 dari 2,5 persen menjadi 2,2 persen. Langkah itu diambil karena kemungkinan efek dari Brexit dan meningkatnya proteksionisme khususnya dilakukan oleh Amerika Serikat.

Mengutip Xinhua, Jumat, 6 Juli 2018, tingkat pertumbuhan ekonomi Jerman diperkirakan turun dari 2,5 persen menjadi 2,2 persen pada 2018, dan tingkat pertumbuhan pada 2019 diharapkan menjadi 2,1 persen, lapor kantor berita Jerman DPA, mengutip laporan IMF.

Laporan itu juga mencatat bahwa pengangguran Jerman akan turun sedikit menjadi 3,5 persen pada 2019, dan tingkat inflasi tetap stabil pada level 1,7 persen. Selain itu, laporan tersebut mencatat kenaikan harga rumah di kota-kota paling dinamis di Jerman perlu pemantauan ketat.

Lebih lanjut, IMF mendesak pemerintah federal Kanselir Angela Merkel untuk berbuat lebih banyak untuk meningkatkan investasi publik dan mendukung pertumbuhan jangka panjang yang akan mengurangi surplus akunnya. Surplus perdagangan tinggi Jerman telah lama dikritik tajam oleh Presiden AS Donald Trump di antara kritikan yang lain.



Sebelumnya, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde telah memperingatkan bahwa proteksionsime dan perang dagang global akan menciptakan situasi kalah-kalah bagi semua orang. Kondisi itu bisa terjadi di tengah meningkatnya perang kata-kata antara Amerika Serikat dengan beberapa mitra dagangnya.

Berbicara kepada stasiun radio Prancis RTL, Lagarde mengatakan, dampak makroekonomi akan serius dan tidak hanya ketika Amerika Serikat mengambil tindakan. Pasalnya, beberapa mitra dagang yang terkena dampaknya secara khusus seperti Kanada, Eropa, dan Jerman bisa melakukan pembalasan atas langkah AS.

Lagarde berharap Presiden AS Donald Trump tidak menerapkan ancamannya untuk mengenakan tarif impor tersebut. "Dalam perang dagang yang disebut, yang didorong oleh kenaikan tarif impor secara timbal balik, tidak ada yang menang dan umumnya menemukan kerugian di kedua belah pihak," kata Lagarde.

 


(ABD)