Perang Dagang

Abe Hadapi Tekanan untuk Bergabung Melawan AS

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 09 Jun 2018 21:01 WIB
ekonomi amerikaekonomi jepangas-jepang
Abe Hadapi Tekanan untuk Bergabung Melawan AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (FOTO: AFP)

New York: Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dinilai sebagai pembicaraan tentang perundingan perdamaian dengan Korea Utara. Tapi, hal itu mendapat gangguan dengan adanya pengenaan tarif yang tinggi pada impor baja dan alumunium termasuk ancaman pungutan atas mobil Jepang.

Pertemuan dengan Abe datang ketika Trump mempersiapkan diri untuk melakukan pertemuan di Quebec pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) dengan sejumlah kepala negara dari tujuh ekonomi terbesar di dunia. Ketujuh negara itu yakni Kanada, AS, Jepang, Inggris, Italia, Prancis, dan Jerman. Pejabat dari Uni Eropa juga dijadwalkan hadir.

Dihadapkan dengan sikap agresif Trump tentang memberlakukan tarif baru untuk memaksa mitra-mitra itu membuat konsesi perdagangan, sekutu AS telah mulai menutup diri kepada AS. Para sekutu menyayangkan sikap Trump karena berdampak buruk terhadap perdagangan dunia yang akhirnya bisa menekan laju perekonomian global.

"Kami tidak dapat mengobarkan perang dagang antar teman," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, kepada wartawan setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 9 Juni 2018.



Macron menjelaskan ketika para pemimpin G7 berusaha meyakinkan Trump untuk membatalkan keputusan pengenaan tarif sepihaknya tapi enam anggota lainnya terus menjadi blok perdagangan yang kuat yang dapat bertahan jika AS tetap mendirikan hambatan perdagangan.

Sebagai bagian dari agenda 'America First', Trump telah berjanji untuk melindungi para pekerja dan bisnis AS dari apa yang dia klaim sebagai persaingan internasional yang tidak adil. Sebelum pertemuan puncak, pemerintah terus menekan untuk terjadi konsesi perdagangan.

"Dia berpegang teguh pada senjatanya," kata Penasihat Ekonomi Utama Trump, Larry Kudlow, kepada wartawan.

Tidak ditampik, kondisi itu yang menempatkan Abe di tempat yang sulit. Sejak dia pertama kali bertemu Trump, hanya beberapa hari setelah pemilihan Presiden di 2016, Abe telah membina hubungan hangat dengan Presiden AS. Kedua pemimpin telah bertemu 10 kali baik berbagi hamburger, bermain golf bersama, hingga berbicara secara teratur melalui telepon.



Sejauh ini, Jepang belum bergabung dengan Tiongkok, Kanada, dan Meksiko untuk melakukan aksi pembalasan terhadap tarif baja dan aluminium dari AS. Uni Eropa juga telah mengancam pembalasan dan telah berjanji untuk menentang tarif AS.

Tapi garis keras Gedung Putih pada perdagangan menempatkan tekanan besar bagi Abe di mana Trump juga mencela Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang merupakan kesepakatan perdagangan multilateral. Adapun TPP telah dipromosikan oleh Abe dan lainnya sebagai cara untuk melawan peran Tiongkok yang semakin menonjol dalam ekonomi Asia Pasifik.

Abe juga menghadapi skandal politik domestik yang telah melemahkan popularitasnya. Pada Senin lalu, Menteri Keuangan Jepang Taro Aso mengumumkan pemerintah melakukan pemotongan gaji satu tahun setelah 20 pejabat dihukum karena merusak dokumen yang terkait dengan penjualan properti pemerintah yang dikaitkan dengan istri Abe.

Abe membantah melakukan kesalahan apapun oleh dirinya sendiri atau istrinya. Tentu kondisi itu membuat Abe memiliki sedikit ruang politik untuk bermanuver sebagai orang aneh di antara mitra dagang AS yang menyerang balik dengan tarif yang bertentangan. Namun, jika Tokyo memberlakukan tarif maka Tokyo memiliki banyak produk dan layanan AS untuk dipilih.

 


(ABD)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

3 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA