Mata Uang Turki Runtuh, Erdogan: Kita Memiliki Tuhan

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 11 Aug 2018 12:03 WIB
turki
Mata Uang Turki Runtuh, Erdogan: Kita Memiliki Tuhan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP)

Ankara: Lira Turki telah runtuh ke rekor terendah sepanjang waktu terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Akan tetapi, pemimpin negara itu telah menepis kekhawatiran dengan mengatakan kepada rakyatnya bahwa Turki memiliki Tuhan.

Lira terpukul terhadap USD dan harus jatuh lebih dari 12 persen nilainya. Sekitar pukul 5:00 ET, mata uang telah naik kembali ke USD5,911. Adapun pertarungan terbaru terjadi setelah delegasi Turki kembali dari Amerika Serikat dengan tidak ada kemajuan terkait penahanan seorang pendeta AS.

Adapun pendeta AS bernama Andrew Brunson dituduh mendukung kelompok yang diduga melakukan kudeta pada 2016. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Juli bahwa AS akan memberikan sanksi besar kepada negara yang menahan pendeta tersebut. Sedangkan Presiden Turki Recep Erdogan menegaskan dia akan tahan terhadap tekanan itu.

"Ada berbagai kampanye yang sedang dilakukan. Jangan pedulikan mereka. Jangan lupa, jika mereka memiliki uang mereka, kami memiliki orang-orang kami dan Tuhan kami. Kami bekerja keras. Lihat lah apa yang kami lakukan pada 16 tahun lalu dan lihat kami sekarang," tegas Erdogan kepada para pendukungnya, seperti dilansir CNBC, Sabtu, 11 Agustus 2018.



Indeks volatilitas lira tiga bulan yang tersirat mencapai level tertinggi sejak akhir 2008. Volatilitas tersirat menunjukkan pendapat pasar tentang potensi pergerakan mata uang. Jika volatilitas yang tersirat tinggi maka terdapat beberapa hal di pasar mata uang yang memiliki potensi untuk perubahan harga secara besar di kedua arah.

Sementara itu, euro turun sebanyak 0,5 persen terhadap USD pada Jumat pagi waktu setempat, menyusul laporan bahwa bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) prihatin atas dampak lira Turki yang melemah. Menurut Financial Times, depresiasi lira bisa merugikan bank-bank Eropa seperti BBVA Spanyol, UniCredit Italia, dan BNP Paribas Prancis pada khususnya.

Amerika Serikat sebelumnya mengancam akan memberikan sanksi untuk Turki karena menahan seorang pendeta Amerika Serikat. Andrew Brunson ditahan di penjara selama hampir dua tahun sebelum dia dipindahkan menjadi tahanan rumah pekan lalu. Para pejabat AS mengharapkan pembebasannya dan kecewa karena dia hanya diubah statusnya sebagai tahanan rumah.

Brunson dituding melakukan kegiatan atas nama dua kelompok yang dilihat Ankara sebagai teroris. Pertama adalah kelompok Fethullah Gulen, yang disalahkan atas upaya kudeta pada Juli 2016, dan kedua bergabung dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Brunson memimpin sebuah gereja protestan di Kota Aegena, Izmir. Dia menyangkal tudingan tersebut. Meski demikian, jika terbukti bersalah, Brunson berisiko dipenjara hingga 35 tahun. Sidang berikutnya akan dilaksanakan pada 12 Oktober.

 


(ABD)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA