Yuan Diperkirakan Tidak Memasuki Jalur Depresiasi

Angga Bratadharma    •    Rabu, 19 Oct 2016 11:37 WIB
ekonomi chinationgkok
Yuan Diperkirakan Tidak Memasuki Jalur Depresiasi
Ilustrasi (REUTERS/David Gray)

Metrotvnews.com, New York: Mata uang Tiongkok yakni yuan tidak memasuki jalur depresiasi tapi diperkirakan tekanan akan masih terjadi dalam jangka pendek di tengah terjadinya penguatan dolar Amerika Serikat (USD). Adapun USD diperdagangkan bervariasi terhadap mata uang utama lainnya di tengah aksi ambil untung.

Mengutip Reuters, Rabu 19 Oktober, corong Partai Komunis menyatakan bahwa mata uang Tiongkok akan tetap bergerak stabil di pertengahan sampai jangka panjang dengan volatilitas dua arah. Bahkan, diperkirakan tren depresiasi tidak akan mungkin terjadi kepada yuan.

Baca: Didorong Belanja Pemerintah, Ekonomi Tiongkok Diperkirakan Tumbuh 6,7%

Penguatan mata uang yuan akan didukung oleh tanda-tanda perekonomian Tiongkok yang stabil. Bahkan, yuan akan juga didukung oleh adanya investasi dari luar negari yang masuk ke Tiongkok dan memperkuat posisi yuan di sekarangjang mata uang lainnya pada Special Drawing Rights.

Optimisme data ekonomi Amerika Serikat (AS) telah meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS oleh Federal Reserve atau the Fed. Kondisi itu memberikan tekanan terhadap gerak yuan. Indeks dolar DXY global, yang mengukur kekuatan dolar telah naik 3,5 persen dalam dua bulan terakhir. CNY=CFXS terhadap greenback telah jatuh 1,0 persen di bulan ini.


Ilustrasi yuan (Foto: Reuters)

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan mantap di posisi 6,7 persen di kuartal III-2016 dengan didorong oleh belanja pemerintah dan hiruk-pikuk laju bisnis sektor perumahan. Namun, kondisi itu akan dibarengi dengan investasi swasta yang menurun, utang bergelombang, dan adanya risiko koreksi sektor properti.

Baca: Yuan Masuk ke Level Terendah Usai Pengumuman Cadangan Devisa

Data yang dirilis pada Rabu diharapkan bisa memberikan gambaran mengenai perekonomian Tiongkok yang secara perlahan mulai bergerak stabil tapi ketergantungan semakin besar terhadap belanja pemerintah dan pertumbuhan bisnis di sektor perumahan. Hal itu diperkirakan terjadi lantaran kinerja ekspor tetap perlu ditingkatkan lagi.

Baca: Tiongkok Kurangi Kepemilikan Surat Utang Negara AS

Pemimpin Tiongkok mencoba untuk memacu pertumbuhan dengan menciptakan lapangan pekerjaan, tapi juga dihadapkan pada tekanan untuk mendorong reformasi struktural yang memberi tekanan karena harus memotong kelebihan kapasitas industri. Kondisi itu akan menjadi momok dan meningkatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta gagal bayar utang.

 


(ABD)