Tarif Trump untuk Jepang Dinilai Tidak Logis

Angga Bratadharma    •    Selasa, 11 Sep 2018 19:08 WIB
ekonomi amerikaekonomi jepang
Tarif Trump untuk Jepang Dinilai Tidak Logis
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (FOTO: AFP)

Hong Kong: Ahli Strategi CLSA Jepang Nicholas Smith menilai tidak logis bagi Amerika Serikat (AS) untuk memukul pembuat mobil Jepang dengan pengenaan tarif karena bisa berpengaruh terhadap aktivitas bisnis. Apalagi Jepang tidak mengenakan bea masuk atas impor mobilnya.

Donald Trump mengisyaratkan dalam percakapan baru-baru ini dengan Wall Street Journal bahwa pertarungan dagang dengan Jepang dapat menjadi pertarungan tarif berikutnya. Banyak ahli mengatakan sektor otomotif Jepang adalah yang paling berisiko menjadi target karena telah menyumbang tiga perempat ketidakseimbangan perdagangan antara Jepang dan AS.

Investor sebagian besar menghindari saham Jepang karena terdapat ancaman pengenaan tarif dari Amerika Serikat di bagian depan perdagangan. Sektor otomotif Jepang telah menderita di mana saham produsen mobil terbesar negara itu, Toyota, telah menurun sebanyak 8,55 persen pada tahun ini.

"Jawaban saya adalah tidak logis bahwa (Jepang) terluka oleh tarif Trump. Jepang memiliki surplus perdagangan USD69 miliar dengan AS. Tapi hampir semua itu ada di dua wilayah yakni otomotif dan mesin," kata Nicholas Smith, seperti dikutip dari CNBC, Selasa, 11 September 2018.



"Dan kedua wilayah itu mendapat tarif nol persen. Mendapat nol persen untuk otomotif sejak 1968," tuturnya, di Forum Investor CLSA di Hong Kong.

Komentar Smith menggemakan sentimen para ahli lainnya seperti Seijiro Takeshita, profesor di Universitas Shizuoka, yang mengatakan bahwa tarif AS pada mobil Jepang tidak masuk akal dan tidak rasional. Meski demikian, tambah Smith, administrasi Trump tidak dapat diprediksi dan kondisi itu membuat sulit untuk meramalkan perkembangan perdagangan.

"Terlepas dari ancaman tarif, perusahaan-perusahaan Jepang telah melakukan sangat-sangat baik dengan laba kuartal mengalahkan perkiraan," Smith mencatat. Ekonomi terbesar ketiga di dunia juga membukukan pertumbuhan tiga persen tahun ke tahun di kuartal kedua 2018 -laju tercepat sejak awal 2016.

 


(ABD)