Banyak Negara Disebut Terluka Akibat Perang Dagang AS-Tiongkok

   •    Sabtu, 07 Jul 2018 15:01 WIB
ekonomi duniaPerang dagang
Banyak Negara Disebut Terluka Akibat Perang Dagang AS-Tiongkok
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

New York: Perekonomian Asia seperti Taiwan, Korea Selatan (Korsel), dan Asia Tenggara dapat terpukul parah jika ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kian memanas di masa-masa mendatang. Diharapkan pengenaan tarif tinggi yang diberlakukan AS dan dibalas Tiongkok bisa segera dihentikan demi kepentingan bersama.

Adapun AS menembakkan tembakan pertama pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) dengan tarif baru kepada barang Tiongkok senilai USD34 miliar dari 818 kategori produk. Sebagai tanggapan, Tiongkok menerapkan tarif pembalasan atas beberapa impor dari AS, kata Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Pengenaan tarif bisa berlanjut dan meningkat lantaran Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya mempertimbangkan untuk memaksakan tarif tambahan pada USD500 miliar barang-barang Tiongkok jika Tiongkok membalas. Tidak ditampik, kebijakan Trump menuai kontroversi karena dampaknya bisa meluas.



Taiwan, Korea Selatan, dan negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia adalah beberapa negara yang paling bergantung pada ekspor yang membuat mereka sangat rentan ketika perdagangan global terancam. Tentu ada harapan agar perang dagang tidak terjadi demi kepentingan bersama.



"Mengingat keterbukaan perdagangan dan eksposur ke rantai pasokan, tidak akan ada jeda apapun untuk Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan dalam skenario risiko ini," kata Kepala Ekonom DBS Bank Singapura Taimur Baig, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 7 Juli 2018.

Ia memperkirakan sebanyak 0,8 persen dapat dicukur dari pertumbuhan Singapura dalam sebuah peristiwa perang dagang AS-Tiongkok melalui pengenaan tarif 15 hingga 25 persen pada semua produk yang diperdagangkan antara dua ekonomi terbesar di dunia. Negara-kota di Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh tiga persen tahun ini.

"Taiwan dan Malaysia dapat melihat tingkat pertumbuhan yang diharapkan tahun ini dengan masing-masing 2,8 persen dan lima persen atau turun 0,6 persen," kata Baig.



Korea Selatan, sementara itu, bisa kehilangan 0,4 persen dari perkiraan pertumbuhan ekonomi di angka 2,9 persen pada 2017, demikian menurut ekonom.

Putaran pertama tarif yang dilaksanakan pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) tidak menargetkan barang yang umumnya dibeli oleh konsumen Amerika seperti telepon seluler atau televisi, menurut Kantor Perwakilan Perdagangan AS.

"Tetapi jika tarif tersebut dan putaran berikutnya mengakibatkan penurunan ekspor Tiongkok ke AS maka akan ada efek yang menyimpang bagi negara-negara lain di Asia," sebut Analis JPMorgan dalam sebuah catatan.

"Berdasarkan sifatnya, produk tersebut sangat bergantung pada rantai pasokan yang terintegrasi secara ketat. Untuk itu, ini akan menyebarkan setiap kejutan perdagangan ke kawasan itu," kata Analis JPMorgan.

 


(ABD)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

1 hour Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA