Perang Dagang Mengintai, Pasar Asia Terus Merugi

   •    Jumat, 03 Aug 2018 10:54 WIB
bursa saham asia Perang dagang
Perang Dagang Mengintai, Pasar Asia Terus Merugi
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Pasar Asia terus merosot Kamis, 2 Agustus 2018 akibat memuncaknya kekhawatiran terhadap dampak perang dagang setelah AS memperingatkan bahwa pihaknya akan melipatgandakan tarif pada berbagai impor dari Tiongkok.

Shanghai dan Hong Kong mengalami kerugian terbesar setelah Perwakilan Perdagangan Donald Trump, Robert Lighthizer, mengonfirmasi bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk menaikkan retribusi hingga 25 persen dari 10 persen yang diumumkan pada barang-barang Tiongkok yang bernilai USD200 miliar.

"Kami sangat jelas tentang perubahan spesifik yang harus diberlakukan terhadap Tiongkok. Namun, alih-alih mengubah perilakunya yang berbahaya, Tiongkok malah telah secara ilegal membalas terhadap pekerja, petani, peternak, dan bisnis AS," kata Lighthizer.

Pernyataannya muncul setelah laporan terpisah mengatakan kedua pihak ingin memulai kembali perundingan untuk mencegah perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia yang dapat merusak pertumbuhan global.

Saat menanggapi laporan sebelumnya bahwa AS sedang mempertimbangkan langkah itu, juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Geng Shuang memperingatkan Rabu, 1 Agustus 2018 bahwa pemerasan dan tekanan dari pihak AS tidak akan pernah berhasil.

Perkembangan terakhir ialah ketika Washington mempertimbangkan memberlakukan tarif pada USD16 miliar barang dalam beberapa pekan mendatang setelah AS menargetkan impor senilai USD34 miliar bulan lalu.

Di sisi lain, investor dibiarkan mereka-reka tentang bagaimana krisis akan berlanjut dengan beberapa kekhawatiran bahwa kedua belah pihak berusaha saling membalas. Namun, yang lain mengatakan Trump sedang bermain keras sebagai taktik negosiasi.

"Pasar sekarang waspada terhadap langkah berikutnya dalam perang dagang antara AS dan Tiongkok," kata Nick Twidale, CEO di Rakuten Securities Australia, dalam sebuah catatan.

Dia mengatakan ancaman AS untuk meningkatkan tarif hingga 25 persen dari 10 persen dan Tiongkok bersumpah untuk tidak bereaksi terhadap 'pemerasan' untuk membawa mereka kembali ke meja perundingan, ini bisa menjadi katalisator yang memberi sentimen. Menurut Twidale, beberapa pasar bakal kacau balau, terutama karena sedang memasuki musim liburan perdagangan dengan likuiditas yang lebih rendah."

Dalam perdagangan pagi, Shanghai kehilangan 1,4 persen dan Hong Kong menyerah 1,2 persen. Tokyo turun 0,4 persen pada saat istirahat dan Sydney tergelincir hingga 0,3 persen. Seoul turun 0,7 persen dan Taipei merosot 0,8 persen, sementara Singapura nyaris tidak bergerak.

Saham Tokyo

Selain pasar Shanghai dan Hong Kong, saham-saham Tokyo juga merosot lebih dari satu persen kemarin. Indeks acuan Nikkei 225 kehilangan 1,03 persen atau 234,17 poin, berakhir pada 22.512,53, sedangkan indeks Topix turun 1,00 persen, atau 17,67 poin, pada 1.752,09.

"Kekhawatiran tentang hubungan perdagangan AS-Tiongkok terjadi karena pasar Tokyo dibuka dengan aksi jual," kata Okasan Online Securities dalam komentarnya. "Beberapa pembelian terlihat di antara perusahaan-perusahaan yang memiliki pendapatan yang sehat. Namun, setelah saham Tiongkok dibuka lebih rendah, Nikkei juga mulai turun," katanya.

Investor dibiarkan menebak bagaimana krisis akan berlanjut dengan beberapa kekhawatiran bahwa kedua belah pihak saling membalas. Namun, yang lain mengatakan Trump bermain keras sebagai taktik negosiasi.

"Investor khawatir karena mereka tidak tahu apakah perang perdagangan (AS-Tiongkok) sedang meningkat atau negara-negara sebenarnya sedang berkompromi," kata Masayuki Kubota, kepala strategi di Rakuten Securities. (Media Indonesia)

 


(AHL)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA