Mata Uang Dolar AS Tertekan

Ade Hapsari Lestarini    •    Sabtu, 02 Dec 2017 10:41 WIB
dolar as
Mata Uang Dolar AS Tertekan
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

New York: Mata uang dolar AS jatuh terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada perdagangan Jumat setelah mantan Penasihat Keamanan Nasional AS Michael Flynn mengaku bersalah berbohong kepada Biro Investigasi Federal mengenai kontaknya yang tidak semestinya dengan Rusia.

"Pembelaan dan kesepakatan saya yang salah untuk bekerja sama dengan kantor pengacara khusus tersebut mencerminkan sebuah keputusan yang saya buat untuk kepentingan terbaik keluarga dan negara saya. Saya akan menerima tanggung jawab penuh atas tindakan saya," Flynn mengatakan kepada pengadilan di Washington DC.

Melansir Xinhua, Sabtu, 2 Desember 2017, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,20 persen pada 92,864 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1892 dolar dari 1,1903 dolar pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris merosot ke 1,3467 dolar dari 1,3526 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi 0,7611 dolar dari 0,7565 dolar.

Sementara dolar AS membeli 112,05 yen Jepang, lebih rendah dari 112,46 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9762 franc Swiss dari 0,9837 franc Swiss, dan dolar turun menjadi 1,2695 dolar Kanada dari 1,2903 dolar Kanada.

Seperti diketahui, Kantor Penasihat Khusus Robert Mueller mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyebutkan tuduhan Flynn, bahwa dia membohongi Biro Investigasi Federal mengenai dua kontak yang dia miliki dengan pejabat Rusia sebelum mengambil jabatan.

Ty Cobb, seorang pengacara Gedung Putih, mengeluarkan sebuah pernyataan setelah wahyu tersebut mengatakan bahwa Gedung Putih juga telah menjadi korban kebohongan Flynn dan meremehkan implikasi dari permohonan Flynn.

Di sektor ekonomi, indeks manufaktur, yang juga dikenal sebagai indeks manajer pembelian (PMI), tercatat 58,2 di November, turun dari Oktober sebesar 58,7 dan konsensus pasar yang hilang sebesar 58,4, lapor Institute for Supply Management dalam laporannya.


(AHL)