Sanksi Diterapkan, Ekonomi Korut Tetap Bergeliat

   •    Jumat, 07 Jul 2017 10:59 WIB
korea utara
Sanksi Diterapkan, Ekonomi Korut Tetap Bergeliat
Ekonomi Korea Utara tetap bergeliat. (FOTO: AFP)

DERETAN truk dengan berbagai ukuran mengular di 'Jembatan Persahabatan Tiongkok-Korea'. Kendaraan yang memuat aneka barang dari Korea Utara (Korut) tersebut bergerak memasuki wilayah negara tetangga sekaligus sekutu mereka, Tiongkok.

Pergerakan truk-truk itu mengindikasikan perekonomian negara yang dipimpin Kim Jong-un itu terus menggeliat. Padahal, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutu mereka yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menerapkan sanksi ekonomi terhadap Korut.

Dengan sanksi ekonomi, Korut yang berulang menguji rudal dan senjata nuklir diharapkan kian diisolasi dan mematuhi keinginan masyarakat internasional. Faktanya 'Negeri Juche' tersebut belum menunjukkan tanda-tanda takluk dan angkat tangan dengan sanksi ekonomi yang didukung masyarakat internasional.

Baca: AS Siap Gunakan Kekuatan Militer untuk Hadapi Korut

Keajekan perekonomian Korut di tengah pemberlakuan sanksi tidak bisa dilepaskan dari peran Tiongkok. Oleh karena itu, 'Negeri Paman Sam' pun kembali menekan Tiongkok untuk turut memperberat sanksi kepada sekutu mereka itu.

Pemandangan di wilayah perbatasan Korut-Tiongkok memang kontras dengan harapan AS dan negara sekutu mereka. Setiap hari puluhan truk tetap mengantre menunggu izin memasuki kota perbatasan Dandong, Tiongkok. Kota itu lokasi 70 persen dari aktivitas perdagangan antara Korut dan Tiongkok. Sanksi terhadap Korut memang mendapat restu dari PBB. Namun, beberapa aktivitas perdagangan dengan Korut tetap diizinkan.

Kini dengan dengan uji coba rudal balistik yang dilakukan lagi Korut, AS semakin geram dan mendamprat Tiongkok untuk lebih serius menekan Korut. Dengan sanksi yang tidak mempan dan berdampak, Washington kembali mendesak PBB agar memperberat sanksi terhadap Pyongyang.

Desakan itu mencuat setelah Presiden AS Donald Trump mengetahui bahwa hubungan perdagangan Korut-Tiongkok justru meningkat 49 persen pada kuartal pertama. Sanksi boleh digembar-gemborkan secara internasional, tetapi faktanya lalu lintas perdagangan di Kota Dandong berjalan sebagaimana biasa.

Baca: Diancam AS, Korut Siap Respons Berbagai Bentuk Serangan Nuklir

Sejumlah sopir taksi mengatakan mereka belum melihat penurunan jumlah pedagang Korut yang mengunjungi Dandong. Salah satu komoditas bahan baku yang terkena sanksi dari PBB ialah emas. Namun, manajer sebuah toko yang menjual 'produk khusus Korut' di jalan setapak Sungai Yalu mengatakan para karyawannya tidak mengalami kesulitan.

Para karyawannya tetap aman menjalankan tugas melintasi perbatasan untuk membeli emas dan perak asal Pyongyang dalam beberapa bulan terakhir. Sang manajer yang menolak mengungkap identitasnya itu menegaskan bahan baku dari Korut masih tetap rutin dikirim ke beberapa pabrik di Kota Guangzhou, Tiongkok, untuk dijadikan perhiasan seperti cincin, kalung, dan gelang. (Media Indonesia)

 


(AHL)